Arsip untuk Maret 28th, 2009

Kebiadaban Ayah Memangsa Anak Kandungnya

Korban melaporkan kejadian ini ke Mapoltabes PalembangPALEMBANG (SuaraMedia) – Sekejam-kejamnya harimau, tidak akan memaksa anaknya sendiri. Namun pepatah ini tidak berlaku bagi Jayadi. Pria 40 tahun ini tega memperkosa anak kandungnya sendiri, Jayanti.

Kejadian tragis yang dialami pelajar kelas dua salah satu SMU di Palembang, Sumatera Selatan, ini, terungkap setelah korban yang kini berusia 17 tahun ini, melapor ke Poltabes Palembang, Jumat sore (27/3/2009).

Korban mengaku kekerasan seksual ini, dialami sejak dia berumur 15 tahun, atau sudah berlangsung selama tiga tahun.

Korban yang melaporkan kejadian ini ke Mapoltabes Palembang, mengatakan peristiwa pemerkosaan pertama kali, terjadi menjelang tengah malam sekira pukul 23.00 WIB pada 2006. Ketika itu, dia tengah tertidur di kamar.

Ayahnya tiba-tiba masuk ke kamar dan memaksanya mengajak berhubungan intim. Karena terus menolak, tersangka mengancam akan membunuhnya sehingga dia tak bisa menolak.

Korban mengaku sempat mengadukan perbuatan ayahnya kepada ibunya. Tetapi ibunya justru dipukuli tersangka. Karena malu, sejak 25 Februari 2009 lalu Jayanti mengaku tidak lagi masuk sekolah.

Kapoltabes Palembang, Kombes Luki Hermawan, didampingi Kasat Reskrim Kristovo Arianto, mengatakan masih menyelidiki peristiwa ini. (okz) SuaraMedia.com

Tragedi Situ Gintung Adalah Human Error

Tanggul jebol di Situ GintungJakarta, Musibah jebolnya tanggul Situ Gintung di Cireundeu, Tangerang Selatan, adalah akibat kelalaian pemerintah terhadap perawatan tanggul. Karena itu musibah ini tidak bisa disebut sebagai bencana alam.

“Ini tidak bisa dikatakan bencana alam karena bangunan itu dibangun manusia, bukan bangunan sim salabim yang tahu-tahu ada di situ. Jadi berada dalam kontrol manusia. Kalau longsorannya dari bukit mungkin bisa dikatakan bencana alam,” ujar Ketua Tim Kajian Likuifaksi dan Sumber Daya Air Pusat Penelitian (Puslit) Geoteknologi LIPI Adrin Tohari saat dihubungi Jumat (28/3/2009) malam.

Menurut Adrin, kesalahan itu ada pada jajaran pemerintah selaku pihak yang bertanggung jawab atas kondisi tanggul tersebut. Setidaknya ada 4 kelalaian pemerintah yang mengakibatkan musibah ini tak terhindarkan.

Pertama, tidak ada inspeksi rutin dari pemerintah terhadap tanggul yang sudah uzur tersebut. Jika inspeksi secara rutin dilakukan, idealnya 6 bulan sekali, pemerintah pasti punya data mengenai perkembangan tanggul.

“Seharusnya kalau sudah ada datanya di Dinas Tata Ruang, mereka aware bahwa tanggul ini umurnya sekian dan sudah melewati masa kinerjanya. Karena itu harus dilakukan upaya untuk mencegah bencana,” tutur Adrin.

Kedua, pemerintah kurang merawat tanggul yang sudah tua tersebut. Pangkal mulanya adalah inspeksi yang tidak rutin dilaksanakan sehingga pemerintah tidak paham betul bagaimana dan bagian mana yang harus dirawat.

“Kalau pemerintah nggak punya informasi mengenai kekuatan tanggul, ya itu bisa menjadi suatu pukulan buat pemerintah. itu human error, Tapi kalau mereka tahu, dan belum ditangani, itu kesalahan pemerintah juga. Apapun bentuk kekurangan yang ada adalah kesalahan kita sebagai pemerintah” ucap Adrin.

Ketiga, kesalahan pemerintah terletak pada kurangnya peringatan terhadap warga atas potensi jebolnya tanggul. Padahal pemerintah selaku penanggung jawab wajib memberikan peringatan kepada warga.

Kesalahan keempat terletak pada pelanggaran tata ruang yang dilakukan pemerintah. Seharusnya lokasi pemukiman warga terdekat letaknya dari bangunan tanggul dan bantaran sungai berjarak 20 meter. Jika dipatuhi, tentu jumlah korban jiwa tidak sebesar sekarang.

“Di daerah tanggul seminimal mungkin ada pemukiman. Seharusnya itu adalah daerah bebas pemukiman, kira-kira sejauh puluhan meter dari tanggul. Itu ada Perda-nya, daerah bantaran harus bebas dari pemukiman,” kata Adrin. KILASBERITA

Kerapu Sebesar Sapi Ditemukan di Jepara

TEMPO Interaktif, Jakarta: Ikan kerapu besar seberat satu kuintal, panjang 1,5 meter, ditangkap nelayan di perairan Mororejo, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara, Rabu (25/3) pagi, sekitar pukul 09.00.

Ikan yang ditemukan Abdul Hasyim itu kemudian diserahkan kepada Arifin untuk dijual ke penadah di Jepara. “Ikan kerapu itu sudah di-es dan akan dijual ke Gresik,” ujar Arifin, warga Desa Kauman, Jepara.

Berat pasar untuk ikan kerapu adalah sekitar 500 gram yang cukup berbeda menurut spesies. Ikan kerapu lumpur mempunyai ukuran konsumsi antara 400-1.200 gram, sementara kerapu bebek antara 500-2.000 gram.

kerapuSelain kerapu itu, sudah puluhan ikan besar yang dilindungi dalam undang-undang, sering terdampar dan ditangkap para nelayan di Jepara.

Sepekan sebelumnya, ikan lumba-lumba besar sepanjang 175 sentimeter, seberat satu kuintal, ditemukan Fendhi dan Yudhi, warga Desa Mulyoharjo, Kecamatan Jepara. Ikan itu terdampar di tepi sungai di Kelurahan Ujungbatu. “Tadinya masih hidup, setelah beberapa lama saya temukan, mati,” ujar Yudhi. Kemudian ikan itu dikuburkan di Desa Mulyoharjo.

Tertangkapnya puluhan ikan besar itu, setelah dibangunnya PLTU Tanjungjati B, di Desa Tubanan, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, beberapa tahun lalu.

Sebelumnya, tiga nelayan Jepara menemukan hiu tutul (Rhincodon typus) seberat satu ton dengan panjang enam meter di perairan Jepara, tepatnya di wilayah Mlonggo. Ketiga nelayan itu adalah Kardiman (35), Kuriman (25) dan Karmono (41), warga Dukuh Mpu Rancak, Desa Karanggondang, Kecamatan Mlonggo, Jepara.

Ikan hiu itu ditemukan mereka ketika sedang melaut dalam jarak sekitar lima mil dari bibir pantai Mlonggo, pada pukul 01.00 dinihari, Selasa (3/3).

Menurut Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Jepara, Hermin, ikan hiu tersebut termasuk binatang yang dilindungi undang- undang. “Begitu nelayan menangkap ikan yang dilindungi harus segera dilepas kembali ke laut. Sebab jika melanggar ada ancaman hukumannya,” ujar Hermin.TEMPOINTERAKTIF

Pembunuh Berantai Divonis Enam Hukuman Mati

dale-hausnerSeorang pembunuh berantai di Phoenix, Arizona, AS, Jumat (27/3), divonis enam hukuman mati karena melakukan enam pembunuhan. Demikian laporan surat kabar Arizona Republic di situs internetnya.

Pembunuh berantai, Dale Hausner, dinyatakan bersalah atas 80 kejahatan, termasuk enam pembunuhan dan tuntutan berlapis pembunuhan tingkat-satu, penyerangan, penembakan sambil mengemudi, pembakaran, dan kekejaman terhadap hewan.

Pada Selasa, dewan juri memutuskan bahwa terdapat 22 faktor yang memberatkan yang dapat membuat Hausner diganjar sebanyak enam hukuman mati. Hausner dihukum atas pembunuhan enam orang dari Juni 2005 sampai Juli 2006. Ia dinyatakan tak bersalah atas dua pembunuhan lain, tetapi bersalah atas penembakan terhadap atau melukai 18 orang lagi serta 10 hewan selama aksi penembakan 14 bulan yang menteror kota itu selama hampir dua tahun.

Awal pekan ini, Hausner melepaskan haknya untuk mengajukan bukti “yang meringankan” mengenai hidup dan latar belakangnya yang mungkin dapat membujuk juri untuk menyelamatkan jiwanya, dan ia memerintahkan pengacaranya agar tak menyampaikan keberatan atas namannya.

Senin depan, Hakim Mahkamah Agung Roland Steinle dijadwalkan membacakan vonis terhadap Hausner atas 74 kejahatan lain, untuk itu ia telah terbukti bersalah: tuntutan berlapis menembak sambil mengemudi, serangan kejam, upaya pembunuhan tingkat satu, pembakaran, dan kejahatan terhadap hewan. Selain keenam hukuman mati tersebut, ia diperkirakan akan menghadapi ganjaran hukuman ratusan tahun penjara.KOMPAS

Ikan Raksasa Penghuni Situ Gintung Ditangkap

para anggota Tim SAR belum memutuskan akan diapakan ikan itu. Namun ada usulan agar ikan tersebut dimasak untuk disantap ramai-ramai.para anggota Tim SAR belum memutuskan akan diapakan ikan itu. Namun ada usulan agar ikan tersebut dimasak untuk disantap ramai-ramai.

BANTEN (SuaraMedia) – Jebolnya tanggul Situ Gintung tampaknya turut menghanyutkan isi danau keluar. Ikan Patin seberat 45 kg yang diduga berasal dari danau ditemukan warga di sungai. Warga menyebut ikan itu sebagai penghuni Situ Gintung.

Ikan itu ditemukan Akmal Ramadan, salah sorang kru PMI dan SAR Jakarta Selatan yang membantu pencarian korban. Saat tengah menyusur sungai mencari para korban, Akmal justru menemukan sebuah ikan besar.

“Kita sedang menyusur di dalam sungai mencari korban. Tiba-tiba kepentok ikan besar,” ujar Akmal di Kampung Gintung, Cireundeu, Tangerang, Banten, Jumat (27/3/2009).

Panjang ikan sekitar 1 meter dan lebar 40 cm. Saat ditemukan, di dekat ikan tersebut terdapat mayat salah seorang warga yang menjadi korban keganasan air Situ Gintung.

“Ini kayaknya ‘penghuni’ Situ Gintung deh,” celetuk salah seorang warga.

Setelah ditemukan di sungai, ikan berukuran panjang 1 meter dan lebar 40 cm itu lantas dibawa ke posko STIE Ahmad Dahlan. Di sana anggota tim SAR yang terdiri sekitar 20 orang lantas berpose untuk foto bersama ikan malang tersebut.

Sebenarnya, para anggota Tim SAR belum memutuskan akan diapakan ikan itu. Namun ada usulan agar ikan tersebut dimasak untuk disantap ramai-ramai.

“Kita nggak tau mau diapain. Tapi buat makan-makan kenyang juga nih,” ujar Agus, salah satu anggota tim SAR, saat ditemui di posko STIE Ahmad Dahlan, Cireundeu, Tangerang Selatan, Banten.

Di sekitar tanggul tampak beberapa warga dan anak-anak mencari ikan dari air danau yang meluap. Tim SAR sendiri selain menemukan ikan patin raksasa juga menemukan ikan mas seberat 4 kg.SUARAMEDIA

Ironis, Di Banten Tragedi Di Bali Ciuman Masal

SEHARI setelah Nyepi, muda-mudi Denpasar bakal bergembira. Hari itu identik dengan ritual omed-omedan (tarik-tarikan) di Sesetan, Denpasar.


Ritual ini sangat menarik karena dibumbui dengan adegan ciuman massal antara wanita dan laki-laki yang diakhiri dengan siraman air.

Ritual ini wajib diikuti oleh para muda-mudi Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar yang digelar di jalan raya, Sesetan, kemarin (27/3). Sekitar 200 muda-mudi warga banjar ini turut serta dalam ritual yang telah berlangsung ratusan tahun. Sebelum omed-medan, para peserta bersembahyang di areal Balai Banjar memohon ritual ini berjalan lancar.

Sedangkan untuk mengantisipasi membludaknya ratusan penonton, ritual ini dijaga pecalang dan polisi. Tampak wisatawan asing berdesakan menyaksikan ritual unik ini. “Saya pernah menonton tapi tetap ingin menyaksikannya karena ini unik,” ujar Stephanie, wisatawan Australia.

Ritual ini digelar dengan aturan, perserta pria berbaris di hadapan kelompok wanita. Begitu aba-aba dimulai, kedua kelompok ini merangsek ke depan.

Mereka pun terlibat adegan tarik-menarik. Tak lama kemudian, wakil terdepan dari kedua kelompok ini berciuman ditengah sorak-sorai penonton.

Adegan memagut bibir ini berkesudahan setelah mereka disiram air oleh panitia. Adegan tersebut berlangsung berulangkali hingga semua peserta mendapatkan bagian.

“Tadinya malu, tapi sekarang senang,” ujar Ketut Wianti. Omed-omedan pun menjadi ajang mencari jodoh para pemuda desa. Banyak pasangan di banjar ini yang menikah setelah terlibat omed-omedan. Ketua Panitia omed-omedan Gede Anindya Perdana Putra mengatakan ritual ini telah berlangsung turun temurun selama ratusan tahun. Adengan ciuman pada ritual ini sebagai simbol menjalin keakraban dan silaturahmi. (posmetro-medan.com)

via : karodalnet.blogspot.com

Politisi Malaysia Kaget Ada Caleg Usia 17 Tahun

Keberadaan caleg muda menjadi kebanggaan tersendiri bagi sejumlah partai di Indonesia. Namun, kenyataan itu membuat beberapa politisi Malaysia mengerutkan dahi.

“Saya heran, ada anak kecil di bawah usia 21 tahun yang dipercaya menjadi calon pemimpin di Indonesia. Secara kejiwaan mereka masih labil,” ujar Sub Prime Council Partai Keadilan Rakyat Dr Zaliha Mustafa kepada okezone saat berkunjung ke Kantor DPP PKB di Jakarta, Sabtu (28/3/2009).

Rasa heran Zaliha muncul usai mengetahui ada partai besar di Indonesia yang mengusung caleg berusia 17 tahun. Menurut dia, usia semuda itu masih belum matang dari aspek kejiwaan. Sehingga masih rentan ketika menjadi seorang pemimpin.

“Di negara saya, seseorang baru dianggap dewasa dari aspek kejiwaan saat sudah berusia 21 tahun,” ungkapnya.

Sebelumnya, rombongan politisi Malaysia dari Partai Gerakan Rakyat (PGRM) dan Partai Keadilan Rakyat (PKR) bertandang ke Kantor DPP Partai Keadilan Bangsa (PKB), di Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat (27/3/2009) tengah malam.

Kedatangan partai pemerintah dan partai oposisi di Malaysia itu, dalam rangka mempelajari sistem pemilu, praktik kampanye, serta managemen partai. PGRM diwakili oleh politisi muda Ng Yeen Seen dan PKR diwakili oleh sub prime council Dr Zaliha Mustafa. Turut serta dalam rombongan Leong Lai Ming dari lembaga polling Merdeka Center for Opinion Research.OKAZET