Posts Tagged ‘ Politik ’

Inilah Artis yang Bakal Gagal ke DPR

Primus Yustisio-Rachel Maryam (inilah.com)

Primus Yustisio-Rachel Maryam (inilah.com)

INILAH.COM, Jakarta – Putusan Mahkamah Agung ternyata tidak hanya mengancam politisi. Tapi sejumlah artis ibu kota yang tengah bersiap masuk Senayan juga bakalan gagal mengubah profesinya menjadi anggota DPR. Siapa saja?

Dari PAN, Komedian Eko Patrio yang sebelumnya terpilih dari dapil Jatim VIII harus merelakan kursinya hilang akibat putusan MA itu. Selain Eko, pesinetron Primus Yustisio yang terpilih dari Jabar IX kini juga terancam gagal menjadi anggota DPR.

Sementara, dari Partai Gerindra, artis Djamal Mirdad juga rawan digusur caleg dari partai lain. Bila KPU melaksanakan putusan MA itu, maka kursi suami Lidya Kandouw ini akan digantikan caleg Demokrat bernama Kartinah yang satu dapil dengan Djamal di Jateng I.

Artis dari partai Gerindra lainnya adalah Rachel Maryam, yang kini was-was karena kursi yang sudah diraihnya dari dapil Jabar II juga akan berpindah ke caleg dari partai lain. Selain Rachel, Dari PPP terdapat nama peragawati Okky Asokawati yang juga bakalan gagal ke DPR. Okky sebelunya sudah dinyatakan terpilih menjadi anggota legislatif dari dapil DKI III.

Putusan MA memang membuat kecewa parpol-parpol yang berada di papan tengah. Namun, tidak bagi parpol papan atas seperti Demokrat ,Golkar dan PDIP. Karena kursi-kursi yang hilang dari PKS, PAN, PPP, Gerindra dan Hanura akan terbagi ke tiga parpol papan atas itu ditambah PKB.

Putusan MA ini lahir karena caleg Partai Demokrat Zaenal Ma’arif dan tiga caleg lainnya melakukan uji materiil atas Peraturan KPU Nomor 15 Tahun 2009 ke MA dan dikabulkan. MA menilai pasal 22 huruf c dan pasal 23 ayat 1 dan 3 dalam Peraturan itu bertentangan dengan UU Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu pasal 205 ayat 4.

Dalam putusannya itu, MA meminta KPU untuk membatalkan pasal-pasal tentang penetapan calon terpilih pada tahap kedua tersebut. Selain itu, KPU juga diharuskan merevisi Keputusan KPU No 259/Kpts/KPU/Tahun 2009 tentang penetapan perolehan kursi. [mut]inilah.com

Video JK Ucapkan Selamat Kepada SBY via Telepon

BOGOR – Sikap legawa dan ikhlas tampaknya diperlihatkan oleh Jusuf Kalla (JK), semalam. Melalui telepon, dia mengucapkan selamat pada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), rivalnya dalam Pilpres 2009.

Saat komunikasi via telepon berlangsung, SBY kebetulan hendak memberikan keterangan pers kepada wartawan di pendapa kediamannya, Puri Cikeas, Bogor, Kamis (9/7) malam. Pembicaraan dilakukan tanpa loudspeaker sehingga suara JK tidak bisa didengar wartawan. Dari pembicaraan lewat telepon terdengar, setelah menanyakan kabar JK, dan diam beberapa saat, SBY selanjutnya mengucapkan terima kasih. Wajah presiden tersebut sangat sumringah dan terlihat akrab sekali dengan lawan bicaranya.

SBY kemudian diam beberapa saat dengan wajah  penuh senyum, mendengarkan suara JK. Selanjutnya SBY menyahut, ”Ini sebagaimana kita bicarakan berdua dulu, meskipun kompetisi bisa keras, tapi tetap menjalin komunikasi dan silaturahmi. Kita berdua sama-sama memberikan contoh bahwa hubungan tetap terjalin.”

Capres Partai Demokrat itu kemudian diam lagi mendengarkan suara JK. Cukup panjang SBY kemudian menyahut lagi, “Tim kita tetap menjalankan tugas. Dan setelah ini kita bersama-sama bekerja sama melangkah ke depan.

Sejarah mencatat jasa Pak Jusuf besar sekali bagi bangsa dan negara. Mari teruskan amanah bagi kita berdua dan insya Allah ke depan ada jalan yang baik bagi kebersamaan kita. Negara masih membutuhkan Pak Jusuf. Apa pun nanti peran Pak Jusuf, kami senang sekali Pak Jusuf bersedia meneruskan darma baktinya bagi negara. Insya Allah kita bicarakan lagi nanti.”

Usai menerima telepon, SBY mengatakan, JK menyampaikan ucapan selamat pada dirinya. Dia menyambut dengan penuh hormat ucapan selamat tersebut.

“Saya bersyukur bisa berkomunikasi kembali dengan Pak Jusuf Kalla. Meski kami masih presiden dan wapres, tapi sebagai sesama capres tentunya ini peristiwa penting,” kata SBY.

Menurut SBY, nilai pentingnya adalah bahwa meski sempat berkompetisi sangat ketat, dirinya dan JK tetap menjaga komunikasi setelah pilpres digelar. Para kontestan tetap bisa menjalin silaturahmi dan tidak tertutup peluang bekerja sama.
Silaturahmi dan siap bekerja sama kembali juga berlaku untuk seluruh anggota tim pemenangan. Meski saat kampanye terjadi kompetisi keras, itu semua sekadar menjalankan tugas dan setelah tugas selesai maka kembali bersahabat.
“Dengan demikian demokrasi Indonesia makin berkembang dan matang,” tandas SBY.

SBY juga mengatakan bahwa tim yang beranggotakan dirinya dan JK tetap menjalankan tugas sesuai dengan yang diamanatkan rakyat sampai selesai pada beberapa bulan mendatang. Presiden juga mengingatkan, Selasa pekan depan ada Rapat Kabinet, yang tentunya juga akan dihadiri JK dalam kapasitasnya sebagai wapres.

Saat berbincang via telepon dengan JK, SBY didampingi Hj Ani Yudhoyono, Cawapres Boediono, Ketua Tim Sukses Nasional SBY-Boediono Hatta Radjasa, jurubicara Tim Sukses Nasional Rizal Mallarangeng, dan beberapa anggota lainnya.

Sempat Tak Nyambung

Di kediaman JK, juru bicara Tim Sukses JK-Wiranto Yuddy Chrisnandi mengatakan, sebelum magrib, JK memang memerintahkan ajudannya untuk menghubungi SBY untuk memberikan ucapan selamat dalam kapasitas sebagai pribadi dan wapres.

”SBY ditelepon Pak JK dalam kapasitas pribadi dan sebagai wapres, kan belum ada hasil resmi dari KPU. Tapi bagaimana ya, teleponnya nggak nyambung-nyambung,” kata Yuddy.
Saat akan menelepon SBY, JK kebetulan sedang menerima tamu, yaitu para senior editor beberapa media massa di ruang makan kediamannya. Ajudan JK tiba-tiba masuk dan mengatakan ada telepon dari SBY.

”JK bergeser ke ruangan sebelah terus berbicara dengan SBY. Sempat juga kaget pas tahu kalau ternyata disiarkan TV. Langsung dijawab SBY, ini untuk menenangkan hati masyarakat. Akhirnya wapres setuju lalu bilang silakan,” paparnya.

Tunggu Hasil KPU

Sementara itu, Tim Sukses JK-Wiranto juga memberi ucapan selamat atas kemenangan pasangan SBY-Boediono berdasarkan hasil quick count (hitung cepat). Adapun Tim Megawati-Prabowo masih mengunggu hasil resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Ucapan selamat disampaikan Ketua Tim Kampanye Nasional JK-Wiranto, Fahmi Idris, di Jakarta Kamis (9/7). ‘’Selamat kepada SBY-Boediono yang sementara ini unggul dalam perolehan suara pilpres berdasarkan quick count,’’ kata Fahmi kepada wartawan di Posko Mangunsarkoro, Jakarta.

Tim JK-Wiranto, menurut Fahmi, akan memberikan ucapan selamat secara resmi jika hasil penghitungan resmi dari KPU telah dikeluarkan dan menempatkan SBY-Boediono sebagai pemenang.

Sementara kubu Megawati-Prabowo tidak akan memberikan ucapan selamat kepada pasangan SBY-Boediono sampai keputusan final perolehan suara secara resmi diumumkan oleh KPU.
Kubu pasangan nomor satu ini berpandangan, hasil hitung cepat yang dilakukan sejumlah lembaga survei belum bisa dijadikan dasar hasil akhir pemilu presiden.

‘’Penghitungan suara manual itulah yang menjadi tolok ukur utama kami dan kenapa pasangan Mega-Pro satu hari ini belum menyampaikan, katakanlah ucapan kepada siapa yang menang, karena memang kami harus taat dan tunduk pada aturan main,’’ ujar Ketua DPP PDI-P Tjahjo Kumolo.

Langkah Fahmi Idris yang memberikan ucapan selamat, dinilai kubu SBY-Boediono sebagai sikap ksatria. ‘’Kami layak menghargai sikap Ketua Tim Kampanye JK-Wiranto. Sikap ini adalah salah satu pendidikan politik yang baik bagi rakyat dan bahkan bagi politikus.

Mengakui kemenangan pihak lain dan menyampaikan selamat adalah cermin kedewasaan politik,’’ ujar Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum.
Dia menambahkan, pemenang memang tidak layak arogan. Sebaliknya, pihak yang kalah juga tidak perlu rendah diri.(di,F4-49,62)SUARAMERDEKA

Video Ritual Pemanggilan 150 Juta Jin Untuk Mengamankan Pilpres

Pemilihan presiden indonesia yang dilaksanakan secara demokratis untuk kedua kalinya ini memang tengah menjadi sorotan berbagai pihak, termasuk para paranormal. Takut akan terjadi kericuhan pada tanggal 8 Juli nanti,  Forum Spiritual Peduli Cirebon (FSPC)  menggelar ritual pengerahan 150 juta jin di pinggir Pantai Cirebon, Jawa Barat, Ahad (5/7), dipimpin ustad Ujang Bustomi. Ritual juga diisi penyembelihan dua ekor kambing sebagai tumbal.

Tak lama setelah doa dipanjatkan, seorang anggota FSPC kerasukan sosok makhluk halus. Dalam ritual itu, Nyi Roro Kidul, penguasa laut selatan diundang melakukan kontrak kerja sama ikut menyukseskan pilpres. Demikian pula roh Singalodra, sosok penguasa Indramayu zaman dahulu juga merasuk ke tubuh manusia yang dijadikan media untuk komunikasi.

Usai ritual, doa bersama dipanjatkan. Ritual kemudian dilanjutkan dengan melarung kepala kambing serta tabur bungan setaman di Laut Jawa.(sumber: Trans7)

Hii! SBY Ngaku Diganggu Ilmu Hitam

INILAH.COM, bogor – Calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku dirinya kerap diganggu sebagian pihak yang menggunakan ilmu hitam.

“Ini musim pemilu, dalam pilpres dan pilwapres banyak yang gunakan ilmu sihir. Betul saya merasakan dengan keluarga. Luar biasa, macam-macam yang digunakan,” kata SBY saat berbicara di hadapan 3.000 jamaah zikir dan pengajian di kediamannya, Puri Cikeas Bogor, Jawa Barat, Jumat (3/7) malam.

Namun serangan sihir dari lawan politiknya itu, tutur capres nomor urut dua ini, dilawannya dengan berzikir dan berdoa kepada Allah SWT. “Saya sampai pada kesimpulan tidak ada yang dapat mengalahkan sihir selain dengan zikir. Contohnya tadi malam saat debat kemarin malam saya pimpin zikir sepanjang jalan, diikuti istri, ajudan dan pengemudi di jalan sampai di dalam ruangan,” jelasnya.

Kepada jamaah zikir dan doa yang hadir dari seluruh kota di pulau Jawa itu, Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat meminta didoakan beberapa hal. Salah satunya adalah dengan berdoa agar Indonesia tumbuh dan berkembang menjadi bangsa dan negara yang makin maju dan sejahtera.

Selain itu, menurut SBY, dirinya juga berdoa agar Pilpres 8 Juli mendatang berlangsung aman, tertib, dan lancar. Sehingga demokratis dapat berjalan sesuai dengan tujuan pemilu.

“Saya juga minta didoakan semoga pilpres ini dijauhkan dari cara-cara yang tidak terpuji fitnah, kampanye hitam, kekerasan dann perilaku serta tindakan yang curang,” katanya.

Terkait hal itu, capres yang didukung 24 parpol ini, juga minta didoakan semoga semua pihak dapat menerima hasil pilpres 8 Juli mendatang. Terutama yang tidak berhasil juga ikhlas menerima dan tidak melakukan tindakan yang anarkis merusak segalanya.

“Demokrasi itu siap kalah siap menang. Saya pernah kalah, ikhlas dan mendukung wapres itu. Lalu belajar dari kekalahan. Indah sekali jika yang berhasil bertanggung jawab dan menjalankan tugas sebaik-baiknya, dan yang kalah ikhlas dan tidak mencari kambing hitam,” katanya.

Hadir juga dalam acara itu Ketua Umum PPP Suryadharma Ali dan sejumlah fungsionaris Partai Demokrat. [*/jib]

Curhat Diganggu Sihir, SBY Cari Simpati

INILAH.COM, Jakarta – Curahan hati SBY tentang penggunaan ilmu sihir yang mengganggu dirinya dan keluarganya dianggap sebagai upaya mencari simpati publik. SBY dianggap kembali mencoba munculkan kesan terzalimi, yang dianggap sebagai gaya baru.

“Logikanya memang ini upaya untuk meraih simpati publik. Apalagi konteksnya tepat karena disampaikan di acara majelis zikir. Jadi ya siapa tahu menuai simpati, bahwa saya ini diganggu, saya ini orang yang terzalimi,” kata pengamat psikologi politik Universitas Indonesia Hamdi Muluk kepada INILAH.COM di Jakarta, Sabtu (4/7).

Sikap SBY mengumbar soal gangguan ilmu sihir itu, dinilai Hamdi sebagai tidakan yang tidak perlu. Namun, dikatakan dia, SBY mencoba memberi kesan bahwa dirinya tidak terpengaruh dengan gangguan-gangguan yang bersifat gaib. Meski demikian, curhat SBY juga bisa menimbulkan kesan pengeluh.

“Padahal risiko menjadi pejabat publik, menjadi capres, semuanya akan disorot. Persoalan seperti itu tidak terlalu penting untuk disampaikan ke publik,” ujarnya.

Hamdi menjelaskan, curhat SBY juga bisa mengundang banyak penafsiran dari publik. Apalagi yang disampaikan adalah persoalan yang menyangkut keyakinan.

“Harus dicermati apakah itu efektif untuk mendapatkan simpati. Jangan-jangan nanti malah ditafsirkan yang lain. Alih-alih dapat simpati, malah timbul kesan, ini kok presiden percaya klenik,” jelas Hamdi. [fiq/jib]

Inilah.com

Capres JK Siap Lengkapi Ramalan Jayabaya

Jusuf Kalla memberikan hak suara di TPS 20 Menteng

Jusuf Kalla memberikan hak suara di TPS 20 Menteng

VIVAnews – Calon presiden Jusuf Kalla (JK) mendapat dukungan lewat ramalan Raja Kerajaan Kediri, Jayabaya. Bahkan, capres nomor urut 3 ini siap melengkapi ramalan Jayabaya, Nusa Serenggi.

“Ada ramalan Jayabaya. Setelah musim pancaroba Indonesia akan dipimpin seseorang dari Nusa Serenggi. Kalau sekarang banyak orang bilang ini Makassar. Saya yakin, bapak melengkapi ramalan Jayabaya ini,” kata seorang peserta di acara silaturahmi JK dengan Dewan Harian Nasional Badan Pembudayaan Kejuangan ’45, Gedung Joeang, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 3 Juli 2009.

Menurut seorang penanya yang tidak menyebutkan identitas itu, JK tetap harus ingat terhadap filosofi Bhinneka Tunggal Ika dan UUD 1945. Mendapat dukungan melalui ramalan Jayabaya itu, JK pun langsung tersenyum. “Semoga ramalan Jayabaya bisa kita lengkapkan,” kata JK menimpali si pendukung.

Ketua Dewan Harian Nasional Badan Pembudayaan Kejuangan ’45, Suprapto, malah punya rumus sendiri untuk mendukung JK. Dia pun meminta para peserta untuk menghitung masing-masing.

“Usia kita masing-masing dikalikan dua, terus hasilnya ditambah 14. Lalu dikurangi delapan dan dibagi dua. Hasilnya, coba dikurangi usia kita masing-masing. Coba dihitung hasilnya berapa,” tanya Suprapto kepada peserta. “Tiga,” jawab kompak peserta.

Lalu Suprapto melanjutkan, bahwa angka dua itu untuk dua putaran. Sedangkan 14 berasal dari bulan pelaksanaan Pilpres, Juli atau tujuh, yang dikalikan dengan dua. “Angka delapan dari hari pencontrengan,” ujar dia.

ismoko.widjaya@vivanews.com

Kasus Seputar Selebaran Tabloid Indonesia Monitor edisi 49 tahun I/3-9 Juni 2009 Jelang Pilpres

JAKARTA (Pos Kota) – Suhu politik Tanah Air terasa kian memanas. Persaingan sesama tim pemenangan antar kubu tak lagi sebatas “sindir menyindir”, melainkan sudah taraf “tuduh menuduh”. Bahkan “tuntut menuntut” antara satu kubu dengan lainnya.

Yang paling anyar, Tim SBY- Boediono menuntut Tim JK-WIranto meminta maaf, karena beredarnya selebaran yang berbaru SARAdi tengah acara kampanye TM JK Wiranto, di Asrama Haji, Medan.

Isi selebaran itu, yang yang diedarkan oleh pria berbaju batik di Asrama Haji,  yang dihadiri oleh para ulama dan ibu-ibu pengajian itu, ditujukkan kepada istri Boediono, calon isteri wakil presiden, Herawaty Boediono, mengutip ucapan seorang ulama tuna netra garis keras. “Dari Habib Husain Al Habsy: Apa PKS tidak tahu istri Boediono Katolik?.”

Selebaran yang juga diedarkan kepada wartawan itu merupakan kutipan wawancara dengan tabloid Indonesia Monitor, edisi 49 Tahun I/3-9 Juni 2009 lalu.

DI BANDUNG

Peredaran wawanara Indonesia Monitor itu tak cuma di Medan, melainkan juga di Bandung.  Sesaat sebelum Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi ,  usai menyampaikan ceramah dan konsolidasi menjelang muktamar,  di luar masjid disebar selebaran yang dicopy dari tabloid yang isinya provokatif itu.

KH Hasyim Muzadi yang merupakan tokoh PBNU juga dikenal dekat dan bahkan pernah menjadi cawapres Megawaty .

Foto copy-an yang dibarkan itu juga bersumber tabloid Indonesia Monitor edisi yang sama . Dari pantauan wartawan di Bandung, lembaran itu dibawa beberapa orang, lalu hadirin yang ada langsung memintanya. Hampir seluruh hadirin mendapat lembaran tersebut.

Menurut penuturan Nufus, dikutip detik.com Bandung, yang membawa lembaran foto copy an antara lain anggota IPNU (Ikatan Pelajar NU), dan mendapatkan foto copy an dari pihak panitia.

Namun, Ketua Pelaksana Harian PWNU Jabar Moch Surjani Ichsan mengaku tidak tahu menahu tentang pembagian foto copyan tersebut. Bahkan dirinya mengaku baru mengetahui ketika akan dikonfirmasi. “Terus terang saya tidak tahu ini apa, saya tidak tahu,” kata Surjani.

ANDI MALARANGENG MERADANG

“Ini black campaign, kampanye jahat, atau fitnah. Saya tidak tahu ini dilakukan secara sengaja atau tidak, tapi kami menuntut pak JK menjelaskan peristiwa ini, “ ujar juru bicara SBY-Boediono, Rizal Mallarangeng di Bravo Media Center, Jakarta, Rabu (24/6).

“Ibu Boediono sejak lahirnya hingga sekarang Herawati beragama Islam dan salehah,” tandasnya.

Andi yang mengetahui peredaran selebaran itu dari berita televisi mengatakan, kalau selebaran itu memang disebarkan oleh tim kampanye Jusuf Kalla, maka capres tersebut harus minta maf secara terbuka kepada Herawati Boediono. “Yang menjadi keprihatinan kami adalah selebaran itu dibagikan pada saat Pak JK sedang berkampanye,” kata Rizal.

“Namun kalau penyebaran itu tidak dilakukan oleh tim kampanye JK maka kami ingin mendapat penjelasan mengapa hal itu sampai bisa terjadi karena biar bagaimanapun juga Pak Kalla masih menjadi Wakil Presiden,” kata Rizal.

Kubu SBY-Boediono tampaknya benar-benar meradang atas beredarnya artikel bermuatan SARA itu. Terbukti, tim sukses SBY-Boediono, Rizal Mallarangeng tidak melaporkan hal ini ke Badan Pengawas Pemilu terlebih dahulu, melainkan langsung meminta JK meminta maaf.

Tim Kampanye Nasional SBY- Boediono akan melaporkan masalah itu kepada Panwaslu Kota Medan. “Persaingan perlu, tapi jangan serendah itu” kata Andi Malarangeng.

BANTAH

Tim Kampanye Nasional Jusuf Kalla-Wiranto membantah tudingan timnya sebagai penyebar selebaran gelap itu meski beredar di acara kampanye yang menghadirkan tokoh partainya.

Jubir Tim Kampanye nasional JK-Wiranto, Yuddy Chrisnandi menegaskan pihaknya sama sekali tidak mengetahui adanya fotokopian selebaran yang dibagi-bagikan saat kampanye berlangsung di Medan itu.

“Kami baru tahu dari teman-teman wartawan dan kami memastikan tidak ada satupun tim dari kami yang mengedarkan ini,” kata dia di ASEAN International Hotel di Medan Sumatera Utara, Rabu (24/6).

Saat disinggung mengenai permintaan dari tim sukses SBY-Boediono agar JK meminta maaf, Yuddy menilai hal tersebut salah alamat. Pasalnya, selebaran tersebut merupakan berita yang diambil dari tabloid Indonesia Monitor yang kemudian difotokopi dan disebarkan.

“Kalau saya mengetahui sejak awal, saya cegah agar jangan disebarkan. Sebaiknya, tuntut saja Indonesia Monitor atau pak Boediono kan punya hak menjawab,” tukas Yuddi seraya memberi saran.

Jika merasa difitnah, maka Boediono menempuh jalur hukum dan melaporkan kepada Panwaslu, Yuddy menyarankan. Sedangkan mengenai isi berita dari Indonesia Monitor, dia menilai hal tersebut bukanlah selebaran gelap. “Kalau dilihat dari sumber dan narasumbernya, ini bukan selebaran gelap. Ada tabloidnya dan sumbernya yaitu Habib Hussein Al Habsyi,” kata dia.

JK BERTANGGUNG JAWAB

“Kami tidak tahu apakah Pak Kalla mengetahui penyebaran fotocopy itu atau tidak. Karena yang berkampanye itu adalah Pak Kalla yang masih merupakan Wakil Presiden, maka kami ingin mendapat kejelasan dan penjelasan mengenai selebaran gelap itu,” kata Andi Malarangeng lagi  di Bravo Center, Jakarta.

Penjelasan itu dinanti-nanti Tim Kampanye SBY-Boediono karena, menurut dia, biar bagaimanapun juga Jusuf Kalla merupakan penanggung jawab tertinggi dalam tim kampanyenya.

Ditegaskan, kalau memang Capres Kalla tidak mengetahui bahwa selama dirinya berkampanye beredar selebaran yang sama sekali tidak mengandung kebenaran, kata dia, maka Kalla harus menegur tim kampanyenya. “Apa salahnya Pak Kalla menegur tim kampanyenya,” kata Rizal.

TANYA TETANGGANYA
Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul Sembiring, salahsatu partai pendiri SBY-Boediono,  juga menegaskan bahwa istri Boediono itu memang benar-benar beragama Islam.

“Ibu Herawati Boediono pernah belajar mengaji pada seorang kader PKS di Jalan Rasamala, di kawasan Bidakara, Jakarta,” kata Tifatul. Bahkan ketika menikah, Boediono dan Herawati juga berlangsung secara Islam. Mertua Tifatul pun ikut menghadiri acara sakral itu.

“Kalau dulu Pak Boediono yang dipertanyakan agamanya, maka sekarang istrinya. Jangan-jangan nanti para tetangga Pak Boediono yang dipertanyakan agamanya,” kata Presiden PKS ketika menyindir para lawan politik Yudhoyono-Boediono, Minggu (21/6) malam. (dms)POSKOTA.CO.ID

Selebaran Istri Boediono Katolik Beredar

Selebaran dibagi-bagikan 2 orang pria kepada ratusan hadirin saat kampanye Capres Jusuf Kalla di Medan, Sumatera Utara. Hadirin yang mayoritas didominasi kaum perempuan berjilbab tampak menerima selebaran itu ketika JK bertemu dengan pemuka agama di asrama haji Medan, Sumatera Utara, Kamis (24/6/2009).

Selebaran itu berisikan foto kopi berita yang dimuat oleh Tabloid Indonesia Monitor edisi 49 tahun I/3-9 Juni 2009. Berita itu hasil wawancara dengan Habib Husein Al Habsy dan diberi judul “Apa PKS tidak tahu istri Boediono Katolik?”

Ada sekitar 15 pertanyaan yang diajukan kepada Habib Husein. Isinya, seputar pernyataan Habib Husein yang menyesalkan SBY memilih Boediono. Menurut Habib, SBY memilih Boediono tanda bahwa SBY tidak memperhatikan aspirasi parpol Islam.

Salah satu pertanyaannya, Apakah lobi partai Islam terlalu lemah untuk menjadi pendamping SBY? Habib Husein pun menjawab. Satu hal dari PKS, dan partai Islam lainnya, mereka sama sekali tidak diperhitungkan oleh SBY. Tetapi, mereka semua justru mengakali umat untuk kepentingan mereka masing-masing.

Apakah PKS tidak tahu, bahwa istrinya Boediono katolik. Tetapi, saya tidak akan bahas itu, katolik atau bukan. Tetapi, kejadian ini menunjukkan keadaaan yang tidak demokratis.

Boediono ini Islamnya, Islam iwak ya iwak, celeng ya celeng. Islam tralala. PKS sadar tentang hal ini. Tetapi mereka berhitung dengan kursi yang bakal diperoleh makanya tutup mata dengan penunjukan Boediono.

Hadirin yang hadir terlihat membaca sambil mendengarkan pidato JK. Sebelumnya, beberapa waktu lalu Ketua Tim Sukses SBY-Boediono, Hatta Rajasa, telah membantah isu bahwa istri Boediono beragama Katolik. Menurut Hatta, istri Boediono seorang muslimah dari dulu. (detik.com)

Berikut adalah isi lengkap selebaran tersebut yang dikutip dari situs Indonesia Monitor.com ( http://www.indonesia-monitor.com/main/index.php?option=com_content&task=view&id=2333&Itemid=33  )

atau : http://www.forumbebas.com/thread-62656.html