Posts Tagged ‘ kesehatan ’

Manusia Pertama yang Hidup Tanpa Jantung dan Denyut Nadi

Craig Lewis menjadi manusia pertama di dunia yang bisa tetap hidup meskipun tanpa jantung di dadanya. Semua ini berkat pengobatan spektakuler yang dilakukan oleh dua dokter dari Texas. Baca lebih lanjut

Edan..Dokter operasi plastik seorang Gadis untuk dijadiin istri

Seorang dokter operasi plastik, Reza Vossough, memberitahu bagaimana ia memilih cewek yang tidak rapi / jelek diajak menikah untuk dipermak menjadi istri yang ideal..
Baca lebih lanjut

Delapan Fakta Sejarah Kecantikan yang Aneh

AGAKNYA tidak berlebihan mengatakan, tidak ada yang tidak akan dilakukan perempuan demi kecantikan. Sejak masa 100.000 tahun yang lampau, kaum hawa di berbagai pelosok dunia telah melakukan berbagai ritual yang bisa dibilang ”gila” dan mencengangkan.

Simak sejumlah fakta kecantikan aneh sepanjang sejarah, seperti terangkum dalam buku 100.000 Years of Beauty dari L’Oreal berikut ini:

1. Istilah untuk seorang make-up artis dalam hiroglif Mesir berasal dari akar kata ”sesh” yang berarti ”untuk menulis, untuk mengukir.” Hal ini dikarenakan urusan mengaplikasikan make-up merupakan sesuatu yang cukup serius pada zaman dulu. Tingkat akurasi yang diperlukan untuk melukis bibir sama tingginya dengan tingkat akurasi yang diperlukan untuk menulis teks berupa sketsa simbol-simbol.

[MORE…]

Pejalan Lambat Lebih Mungkin Meninggal Akibat Sakit Jantung

Berjalan lambat bisa jadi bukan hanya berarti orang tiba di tempat tujuan lebih lama tapi itu juga merenggut korban berupa kesehatan manusia, demikian temuan satu studi di Prancis.

Para ilmuwan dari lembaga penelitian medis yang berpusat di Paris, Inserm, mendapati bahwa orang yang berusia lebih tua dan berjalan lambat hampir tiga kali lebih mungkin untuk meninggal akibat sakit jantung dan penyebab lain yang berkaitan dibandingkan dengan orang yang berusia lebih tua dan berjalan lebih cepat.
[Selengkapny]

Idap Penyakit Seribu Wajah, Dian Jadi ‘Matahari’ Bagi Odapus

Bandung – Tidak banyak orang yang masih memiliki semangat untuk menjalani hidup setelah divonis mengidap penyakit yang teramat berat. Terlebih jika penyakit tersebut memperpendek harapan hidup penderitanya.

Namun kondisi yang berbeda ditemui pada diri seorang Dian Syarief. Wanita yang divonis mengidap lupus pada usia muda itu mengaku lebih bersemangat untuk berkarya dan membantu sesama, sejak penyakit itu membelenggunya sejak Februari 2009 atau pada saat dirinya berusia sekitar 33 tahun.

Sekitar 10 tahun lalu, wanita kelahiran Bandung 21 Desember 1965 ini diserang penyakit lupus atau penyakit seribu wajah. Wajahnya terlihat sangat pucat. Timbul bintik-bintik merah di sekujur tubuh. Berdasarkan pemeriksaan dokter, trombosit darahnya menurun hingga tersisa 10 persen. Jika trombositnya semakin menurun, pembuluh darahnya akan pecah.

Sumsum tulang belakang Dian harus diambil. Dari situ, baru terdeteksi jika istri dari Eko P. Pratomo ini menderita SLE (Systemic Lupus Erythematosus) atau penyakit kelainan darah. Penyakit itu menyerang organ tubuh penting, seperti kulit, persendian, paru-paru, darah, jantung, ginjal, hati, otak, dan saraf.

Sejak itu, setiap hari Dian harus menelan 20 tablet prednison, sejenis steroid untuk meningkatkan kadar trombosit. Efek sampingnya, kulit menjadi keriput, dan flek-flek tumbuh seperti nenek-nenek. Bagian mulut ada semacam sariawan tapi sangat parah. Kaki mengecil seperti belalang, namun muka gendut seperti bakpao atau sering disebut moonface.

Walau tidak buta total, matanya hanya bisa melihat bayang-bayang. Setelah diperiksa, ternyata ada dua flek di otak yang merusak saraf penglihatannya.

Dian sempat berobat ke RS Mounth Elizabeth di Singapura. Satu bulan di sana, Dian harus menjalani enam kali operasi. Tempurung kepalanya dibongkar, dipasang, dibongkar, dipasang berkali-kali.

Kembali dari Singapura, Dian dirawat selama dua minggu di RS. Medistra, Jakarta. Dian mengalami masa berat ketika menerima kenyataan kehilangan 95 persen penglihatan, akibat penyakit yang hingga kini belum diketahui penyebab dan obatnya.

Waktu terus berjalan. Penyakit terus menghampiri, mulai dari radang selaput paru-paru, radang telinga bagian tengah, penebalan dinding rahim yang mengharuskan tindakan kauterisasi dinding rahim, hingga infeksi virus Herpes Zoster (virus yang menyerang saraf). Operasi dan perawatan di rumah sakit terus dilakukan.

Kondisi tersebut sempat membuat kondisi kejiwaan Dian begitu terguncang. “10 tahun lalu saya sempat gundah hingga saya menemukan sebuah jawaban dari surat As-Syams di Al-Qur’an dan akhirnya menginspirasi saya untuk menggunakannya sebagai nama dari LSM yang didirikan saya Syamsi Dhuha Foundation,” tutur Dian yang ditemui di kantor Syamsi Dhuha, Jl Sekeloa II No2B Bandung Selasa (12/5/2009).

Saat ini, selain aktif mengurusi Syamsi Dhuha Foundation yang bergerak untuk menangani penderita lupus dan low vision Dian juga aktif di Hijrah Institute, sebuah organisasi yang bergerak dibidang keuangan syari’ah.

Syamsi Dhuha memiliki program kegiatan, di antaranya: klinik MEDISa, balai pengobatan untuk masyarakat umum, semua dokternya perempuan. CCL (Care for Lupus & Low Vision) yang menjalankan berbagai kegiatan pendidikan dan dukungan kelompok serta kunjungan ke rumah atau di rumah sakit bagi Odapus. Ada juga program bantuan bagi OKM (Odapus kurang mampu).

Alumnus ITB jurusan Farmasi ini juga sempat mengalami kesulitan beraktivitas di awal-awal mengalami low vision. “Saya juga di-treatment cara fisik dan psikis,” ujar Dian. Namun yang terpenting, menurutnya penanganan psikis, di mana tiap penderita low vision harus diselamatkan dari kejatuhan mental lantaran kehilangan kemampuan melihat.

Karena sudah lama tidak bisa melihat dengan jelas, akhirnya Diab menemukan metode yang efektif untuk mengatasi problem tersebut. Wanita 44 tahun ini mengaku bahwa menajamkan indra pendengaran adalah solusi pengganti mata yang paling efektif.

“Saya menggunakan talking watch untuk melihat jam, talking phone untuk membaca sms dan talking book untuk membaca” ujarnya lagi. Selain itu Dian juga membagi-bagikan alat-alat bantu tersebut kepada para penderita low vision yang tidak mampu dan tergabung di LSM-nya.

Namun bagi penderita yang mampu Dian mengenakan biaya untuk pengadaan alat-alat tersebut.”Penderita low vision juga berhak untuk menatap dunia,” ujar Dian.(ern/ern)DETIK BANDUNG

Mencabut Bulu Hidung, Bisa Picu Radang Otak

nosehairANDA suka mencabut bulu hidung? Sebaiknya hentikan kebiasaan tersebut. Sebab, kebiasaan begitu berpotensi menimbulkan luka di bagian akar bulu hidung, yang bisa menjadi bisul.

”Jika ada bisul di dalam hidung, rasanya cekot-cekot. Rasa nyerinya bisa membuat penderita tak bisa tidur nyenyak,” kata dr Roestiniadi Djoko Soemantri SpTHT KL.

Dokter spesialis telinga, hidung, tenggorok, dan kepala leher RSU dr Soetomo itu menambahkan, bisul di dalam hidung tak bisa sembuh sendiri. Jangan coba-coba pula mengobati sendiri bisul tersebut. Pasien disarankan segera berobat ke dokter. ”Biasanya, dokter akan memberikan antibiotik,” jelasnya.

Dokter yang akrab disapa Yusi itu menjelaskan, antibiotik diperlukan untuk mencegah pasien mengalami radang otak. Sebab, di area di atas bibir terdapat pembuluh darah yang langsung mengarah ke otak.

”Luka di area tersebut memungkinkan bakteri atau kuman lain masuk ke tubuh dan menyerang otak,” ujarnya. Dengan alasan sama, Kepala Instalasi Rawat Jalan (IRJ) RSU dr Soetomo itu menyarankan tak mengutak-atik jerawat di area di atas bibir.

Lalu, bagaimana bila bulu hidung dirasa panjang-panjang? Yusi menyarankan dibiarkan saja. Namun, jika dirasa sangat mengganggu, boleh saja dirapikan. Tapi, dengan gunting, bukan dicabut.

”Guntingnya juga yang khusus, gunting kecil. Jaga pula jangan sampai bulu hidung yang dipotong masuk ke dalam hidung,” imbuhnya.

bulu hidung, kata dia, berfungsi menjadi filter bagi partikel-partikel kecil yang terisap. Kegunaan bulu hidung terasa bila kita berada di ruangan yang sangat berdebu. Biasanya, tubuh langsung merespons adanya partikel kecil yang terisap hidung dengan cara bersin. ”Bayangkan, jika tak ada bulu hidung, partikel tersebut akan masuk ke saluran napas. Itu berbahaya,” katanya.BATAM POS