Posts Tagged ‘ jenglot ’

Dipercaya Bawa Bencana, Dibuang ke Laut

Dua jenglot Bali dan satu putri duyung ditemukan di Desa Pecatu, Kuta Selatan, Bali. Penemuan itu sempat menghebohkan warga setempat. Namun, karena dikhawatirkan bisa mendatangkan malapetaka dan bencana, akhirnya ketiga makhluk misterius itu dihanyutkan di laut.

Dua jenglot Bali dan putri duyung itu ditemukan petugas penyelamat Pantai Tourism Board Tirta (Balawista). “Saat itu, petugas sedang memantau keamanan pantai dari atas karang. Saat petugas menoleh ke arah kiri, dia melihat ada gundukan di antara karang pantai,” kata Wayan Somer, Ketua Satuan Tugas Pantai Labuan Sait, Sabtu (8/5), seperti dilansir dari bali-honeymoon-beach.blogspot.com.

[more]

Fenomena Unik Jenglot

Jenglot

Jenglot

Mempertontonkan jenglot kepada khalayak bukan sesuatu yang melanggar ‘adat istiadat’ jenglot. Namun, penempatan jenglot di tempat yang terang benderang merupakan sebuah pelanggaran ‘tata krama’ kultural sosial kaum jenglot yang identik dengan dunia malam.

JENGLOT yang ditemukan Mbah Lamidi pada Jumat, 8 Mei 2009, di Desa Ngadiluhur, Balen, Bojonegoro (Surya, 13/5/2009) merupakan makhluk ‘jadi-jadian’ murni dari wujud aslinya yang abstrak, mistis dan supranatural. Jenglot itu perwujudan jasmani jin (setan) yang asalnya mustahil diraba, disentuh atau dipandang secara kasat mata manusia. Kecenderungan jin mengubah wujud, tak lepas dari permintaan paranormal yang menemui dan ‘melobinya’.

Biasanya, paranormal lebih dulu memenuhi sejumlah permintaan ‘unik’. Misalnya, harus menyediakan darah segar hewan, tulang belulang hewan gorengan bekas dimakan, kotoran hewan, kemenyan (dupa) yang dibakar atau sisa-sisa makanan manusia setiap hari untuk makanan si jenglot. Ada jenglot yang menuntut darah segar manusia, tapi makanan favorit jenglot adalah darah segar hewan dan bau kemenyan dibakar yang berbau wangi.

Pada dasarnya, jenglot menyukai tempat gelap (remang-remang). Aktivitas jenglot akan kelihatan nampak di malam hari sampai sebelum fajar Shodiq (Subuh) tiba (sekitar pukul 04.00 WIB). Jika suara ayam berkokok di pagi hari (sekitar pukul 03.00 WIB), segenap jin (jenglot) akan mengakhiri aktivitas kehidupannya. Intinya, tenggang waktu antara matahari terbenam hingga terbit di pagi hari, adalah masa-masa rutinitas kehidupan jenglot.

Mbah Lamidi menangkap jenglot pagi hari, pukul 02.00 WIB, atau masa-masa di mana para jenglot sibuk mencari makan. Penangkapan jenglot tak mudah. Pendekatannya lewat semedi, yang harus mengorbankan ideologi keagamaan. Misalnya, kewajiban salat lima waktu harus ditinggalkan, larangan mengakui Al Quran sebagai kitab suci, larangan menyentuh air untuk mandi dan wudu, larangan menyembelih binatang dengan menyebut nama Tuhan, harus menyebut nama seorang jin atau juga diperintah membaca mantera syirik.

Jenglot berkelamin wanita lebih mudah ditangkap bila yang menangkapnya paranormal laki-laki. Sebaliknya, paranormal wanita lebih disukai jenglot jantan (laki-laki). Perbedaan gender ini mempercepat komunikasi paranormal dan jenglot. Bahkan, bila si jenglot timbul rasa ‘cinta’, proses ‘evakuasinya’ sangat mudah. Penulis justru takut dan khawatir jika jenglot yang ditangkap Mbah Lamidi berjenis kelamin perempuan dan sudah mencintai Mbah Lamidi.
Bisa saja jenglot itu di kemudian hari mendatangkan persoalan bagi Mbah Lamidi dan keluarganya. Harapan penulis, jenglot hanyalah jenglot mistis yang butuh makanan. Lalu dia ‘menebeng’ makan di rumah Mbah Lamidi. Bila perkiraan ini benar, penulis dapat pastikan, jenglot Mbah Lamidi sudah berumur tua dan tidak mampu bersaing mencari makanan. Solusinya, memanfaatkan Mbah Lamidi untuk menyediakan makanan setiap hari. Imbalannya, dia berubah wujud dari jasmani immateri menjadi jasmani materi (jenglot) yang dapat dilihat dan ditonton secara kasat mata.

Dendam Jenglot

Hakikat hidup jenglot adalah di alam immateri (gaib). Kalau ada jenglot yang menampakkan diri dalam kehidupan alam nyata manusia akan menimbulkan spekulasi terhadap si jenglot dan paranormal yang menghadirkannya (menangkapnya). Bagaimana mungkin jenglot bisa terjadi? Yang lucu, akhirnya lahir statemen kultusasi terhadap si dukun. Betapa ’saktinya’ dan beraninya si dukun.
Penampakan jenglot di dunia materi dipicu sebuah kesepakatan dan perjanjian ‘empat mata’ non-formal antara dukun dan jenglot. Jenglot adalah pihak yang sering kali melanggar perjanjian yang dibuat. Si paranormal dipastikan tidak dapat berbuat apapun untuk menuntut jenglot yang ‘mengkhianatinya’.

Bila si paranormal yang mengingkari kesepakatan atau perjanjian, si jenglot akan menuntut balas dengan cara-cara halus sebagai metode penyiksaan atau pembunuhan terhadap dukun atau keluarganya. Biasanya, si jenglot menghilang dan berubah wujud ke aslinya, lalu masuk ke dalam tubuh si dukun dan menyakitinya dengan sejumlah penyiksaan.

Yang umum, jenglot menusuk-nusuk tubuh dengan paku, silet, besi, jarum atau alat siksa yang ada. Sering kali kita jumpai, ada orang, melalui rontgen, ditemukan di dalam tubuhnya jarum, silet, paku dan lainnya. Ini adalah perbuatan santet, teluh, tenung atau sihir yang pelakunya adalah jin atau jenglot yang masuk ke dalam tubuh orang itu.

Tensi kemarahan jenglot (jin) lebih tinggi dari pada tensi kemarahan yang muncul dari manusia. Manusia diciptakan Tuhan dari unsur tanah, sedang jenglot diciptakan Tuhan dari unsur api. ‘Over’ tingginya suhu tensi kemarahan dalam diri setiap jenglot dapat dimaklumi dari asal-usul penciptaannya, yaitu api.

Dijauhi Saja
Mempertontonkan jenglot kepada khalayak bukan sesuatu yang melanggar ‘adat istiadat’ jenglot. Namun, penempatan jenglot di tempat yang terang benderang merupakan sebuah pelanggaran ‘tata krama’ kultural sosial kaum jenglot yang identik dengan dunia malam. Masalahnya, kalau malam hari para jenglot berkeliaran (baca : dugem). Tak mustahil warga yang menyaksikan penampakan salah satu jenglot di malam hari, diganggu atau dirasuki oleh jenglot lain.

Di zaman Rasulullah SAW, ada jenglot yang mengganggu salah satu isteri sahabat Rasulullah SAW. Ketika sahabat itu pulang dari medan perang, dia melihat isterinya berdiri di depan pintu sambil berteriak ketakutan, meminta tolong, karena ada ular besar di rumahnya.

Sahabat itu menghunus pedang dan berkelahi dengan si ular, yang ternyata sosok jenglot. Keduanyapun meninggal dunia.
Lalu, Rasulullah SAW bersabda,“Mintalah ampun, khususkan untuk Saudara kita ini! Dia tidak tahu, bahwa yang dia lawan adalah ular jenglot, bukan ular sesungguhnya.” Untuk itu, sebaiknya jenglot dijauhi, tidak usah diganggu atau ditangkap hanya untuk kepentingan komersial, pajangan, aksesori atau tontonan belaka. Kita punya dunia yang berbeda dengan mereka. Mbah Lamidi sebaiknya membiarkan jenglot hidup bebas di alamnya.

Al-Faqiru ila ‘afwi Robbihi
Pakar Hukum Islam, pernah menyelami kehidupan mistis tahun 1992 s/d 1998

SURYA.CO.ID

Difoto, Jenglot Bertubuh Ular Ngambek

Illustrasi Jenglot paling aneh

Illustrasi Jenglot paling aneh

Bojonegoro-Surya -Jenglot, makhluk aneh bertubuh ular dan berkepala mirip wanita yang ditemukan paranormal Mbah Lamidi, kembali menggegerkan warga Bojonegoro. Setelah penemuannya yang menggemparkan sehingga mengundang perhatian warga dan aparat keamanan, kemarin makhluk itu kembali jadi pembicaraan.

Saat dikunjungi oleh beberapa anggota kepolisian dari Polwil Bojonegoro di rumah Mbah Lamidi di Desa Ngadiluhur, Kecamatan Balen, makhluk mistis itu ngambek dan tidak bersedia menampakkan diri. Diyakini, jenglot yang ditemukan Mbah Lamidi itu ngambek karena akan dipertontonkan secara luas kepada masyarakat pada Sabtu (16/5) besok. Selain itu, jenglot merasa jengkel setelah sejumlah wartawan mengambil gambarnya dengan kamera yang mengeluarkan kilatan cahaya/blitz.

Menurut Kepala Desa Ngadiluhur H. Dianto, sekitar pukul 11.00 kemarin dirinya bersama beberapa anggota Polwil Bojonegoro mendatangi rumah Mbah Lamidi guna melihat secara langsung kondisi jenglot. Sebelumnya, aparat Polres Bojonegoro, termasuk kapolresnya, telah menyaksikan langsung.
Ketika para anggota Polwil masuk ke kamar jenglot di rumah Mbahl Lamidi, saat itu yang terlihat hanya kain udeng warna hitam dan kain songkat yang selama ini dipakai membungkus jenglot.

“Dia tadi tidak bersedia menampakkan diri saat tadi saya datangi bersama beberapa orang dari Polwil Bojonegoro,” kata Dianto.

Menurut Mbah Lamidi yang menemukan dan memelihara makhluk mistis itu, memang demikianlah ciri jenglot. Dia bisa ngambek kalau melihat keadaan tidak seperti yang diinginkannya.
“Sepertinya, dia tidak mau menampakkan diri karena sehari sebelumnya difoto oleh wartawan dengan menggunakan cahaya atau blitz. Dan saat akan dilihat lagi, dia ngambek hingga tak mau menampakkan dirinya,” ujarnya.

“Selain itu, bisa jadi jenglot tersebut juga ngembek karena tahu bahwa dirinya akan dipertontonkan secara umum.”

Namun, Dianto dan Mbah Lamidi mengatakan jenglot tersebut masih ada di rumah. Hanya saja, untuk sementara makhluk mistis itu tidak bisa dilihat secara kasat mata.
“Hanya penglihatan orang-orang seperti Mbah Lamidi yang masih bisa melihat jenglot itu. Jadi, kejadian ini sangat wajar,” sambung Kades.

Dengan ngambeknya si jenglot, kata Dianto, rencana memamerkannya kepada khalayak umum secara terbuka pada Sabtu (16/5) nanti akan dikaji lagi.

Sementara menurut Mbah Lamidi, tidak nampaknya jenglot itu merupakan hal biasa. Karena dia merupakan makhluk gaib yang terkadang bisa dilihat oleh manusia dan kadang tidak.
“Memang seperti ini sifatnya. Dia bisa tampak dan bisa juga tidak saat dilihat dengan kasat mata. Tapi jenglot ini masih berada di tempatnya,” ungkap Mbah Lamidi.

Dengan ngambeknya jenglot padahal pihak kepolisian telah mempersiapkan pengamanan terkait pertunjukkannya di hadapan publik Sabtu nanti, Polres Bojonegoro akan melakukan koordinasi kembali dengan perangkat desa setempat.

“Kami sudah mendengar ngambeknya jenglot itu dari aparat Desa Ngadiluhur. Kami akan melakukan koordinasi untuk memastikan kelanjutan pengamanan,” kata Kabag Ops Polres Bojonegoro, Komisari Polisi Suhariyono, Kamis (14/5). Suhariyono sendiri sempat melihat secara langsung jenglot di rumah Mbah Lamidi itu.

Jenglot bertubuh ular dan kepalanya mirip manusia tersebut ditemukan Mbah Lamidi bersama 8 warga saat mereka menjalani ritual di sungai desa Ngadiluhur, sekitar 70-an meter dari rumah Mbah Lamidi pada Jumat (8/5) lalu.

Setelah itu, kabar tentang penemuan makhluk ini cepat menyebar luas sehingga pada Selasa (12/5) lalu Kapolres Bojonegoro AKBP Agus Saripul Hidayat datang langsung ke rumah Mbah Lamidi untuk melihat sendiri makhluk aneh itu.

Jenglot itu tampak seperti sesosok ular melingkar, dengan badan dan kepala berbentuk manusia. Rambutnya berwarna pirang. Mbah Lamidi menyebutnya sebagai jenglot wanita. Tinggi badannya sekitar 18 cm, rambut sepanjang 20 cm, dan di bagian wajahnya terdapat dua alis memanjang berwarna putih. Matanya terbelalak, serta memiliki dua taring.

Jika tubuhnya dijulurkan, panjang ujung ekor hingga ujung kepalanya sampai 90 cm.
Selain itu juga ada dua tangan yang menyilang di dada, dengan jari-jari berwarna hitam dan kuku memanjang. Di bawah pantanya seperti ada besi kekuning-kuningan.st31 SURYA.CO.ID