Janda Korban Serangan 11/9 Tewas Karena Pesawatnya Jatuh

Beverly Eckert, janda seorang korban serangan 11 September 2001 dan pengacara bagi mereka yang selamat, tewas dalam kecelakaan pesawat dekat Buffalo, New York, keluarganya mengatakan, Jumat (13/2/2009).

Eckert bertemu dengan Presiden Barack Obama di Washington Jumat lalu bersama dengan keluarga lain dari mereka yang tewas dalam serangan 2001 di New York dan Washington itu. “Ia adalah inspirasi bagi saya dan bagi begitu banyak orang lain, dan saya berdoa bahwa keluarganya akan menemukan kedamaian dan kenyamanan dalam hari-hari berat yang akan datang,” kata Obama, Jumat.

Eckert, 57, menjadi anggota penting Voices of September 11, kelompok yang memberikan pelayanan pada mereka yang terpengaruh oleh serangan itu dan mendorong pembaruan kebijakan mengenai pencegahan, kesiap-siagaan dan tanggapan terhadap terorisme.

Suaminya, Sean Rooney, tewas di gedung World Trade Center di New York, yang hancur setelah para pembajak al Qaida membajak pesawat jet dan menabrakkannya ke dua menara itu pada 2001. Buffalo News mengutip saudara perempuan Eckert, Sue Bourque, yang mengatakan ia dalam pesawat yang jatuh Kamis malam itu, yang menewaskan semua 49 penumpangnya dan satu orang di darat.

“Kami tahu ia dalam pesawat itu, dan sekarang ia bersamanya (suaminya),” kata Bourque. Eckert, yang tinggal di Connecticut, melakukan perjalanan ke Buffalo untuk merayakan acara yang akan menjadi ulang tahun suaminya yang ke58, kata surat kabar tersebut.

“Ia adalah suara kekuatan dan penuh kasih bagi keluarga tragedi 9/11,” Senator AS Kirsten Gillibrand dari New York mengatakan dalam satu pernyataan yang menyampaikan dukacita bagi korban. Continental Airlines belum mengeluarkan daftar penumpang dalam Penerbangan 3407, yang dioperasikan oleh Colgan Air itu.SURYAONLINE

Manchester United 1958, Malapetaka Olahraga Terburuk

Berbagai malapetaka olahraga telah terjadi, misalnya panggung penonton roboh dengan akibat ribuan orang luka luka, adakalanya di antaranya ada yang meninggal. Bahkan pernah di gelanggang balap mbil di Le Mahns seorang pembalap kehilangan kuasa atas mobilnya, keluar jalur dan masuk ke bagian penonton yang padat, menyebabkan puluhan orang mati hangus dan puluhan lagi luka berat.

Malapetaka terhebat yang pernah terjadi di Le Mans, dianggap lebih hebat daripada kejadian jauh sebelum itu, di mana jembatan di atas jalur balap penuh sesak dengan orang patah dan orang berjatuhan tepat di atas mobil mobil yang yang tengah dilarikan dengan kencang. Namun kiranya tidak ada malapetaka olahraga sampai sekarang yang dirasakan lebih hebat daripada malapetaka yang menimpa perkumpulan sepakbola Inggris yang termashur ” Manchester United ” pada tahun 1958

PANTANG MENUNDA.


Sebetulnya dalam perbandingan agak sering juga terjadi kecelakaan pesawat terbang, yang telah dialami perkumpulan2  sepakbola terkenal, dalam kecelakaan mana dapat dikatakan seluruh kesebelasan lenyap. Tetapi selain MU pada waktu ituadalah kesebelasan juara inggris serta calon juara Eropa, dan hampir semua pemain pemain muda yang paling berbakat di Inggris ketika itu mati. Malapetaka terjadi hanya karena prinsip kukuh orang Inggris, seorang ketus perkumpulan. Sebuah prinsip tertuang hanya dalam satu kalimat, tapi yang berakibatkan jauh.

Bagi perkumpulan sepakbola Inggris pertandingan kompetisi sendiri apalagi pertandingan untuk Cup Inggris adalah lebih penting daripada pertandingan Europa Cup sekalipun. Kata Harorld Hardman, ketua MU : ” Minta pengunduran pertandingan kompetisi hanya karena pertandingan Euraopa Cup bagi kami adalah semacam malapetaka “.

Maka karena prinsip ketua MU itulah pada tanggal 6 Februari 1958 di lapangan udara Riem dekat Muenchen dalam keadaan cuaca buruk sekali pesawat carteran yang ditumpangi regu juara Inggris itu mencoba berangkat juga. Dalam hujan salju yang cukup lebat dua kali start gagal, start yang ketigakalinya berakibat fatal. Begitu pesawat lepas dari landasan dia jatuh kembali dan dalam sekejab saja sudah menjadi reruntuhan.

HARI NAAS


Kesebelasan MU waktu itu dalam perjalanan kembali dari Beograd, di mana mereka dalam rangka pertandingan seperempat final Europa Cup bermain seri, 3-3, lawan juara Yugoslavia Bintang Merah. Dengan kemenangan 2-1 dalam pertandingan di kandang sendiri maka bagi MU skor seri itu berarti maju ke babak semifinal.

” Trip ” ke Beograd itu dilakukan dengan pesawat carteran ” Elizabethan ” G_ALZU AS 57 bermesin dua. Manager terkenal Matt Busby memimpin sendiri kesebelasannya, yang di Inggris diberi julukan ” The Busby Babes “, sebagian besar terdiri dari pemain pemain muda, penemuan dan asuhan Matt Busby sendiri,a.l Bobby Charlton, Duncan Edwards, Roger Byrne, dll.

Selain Matt Busby turut memimpin juga sekretaris perkumpulan Walter Crickmer, coach Bert Whalley dan Trainer Tom Curry. Smbilan wartawan sepakbola ikut bertamasya Frank Swift, bekas kiper internasional, wartawan News of the World, Alf Clarke, untuk Manchester Evening Chronicle, Don Davies ( Manchester Guardian ), George Follows ( Daily Herald ), Tom Jackson ( Manchester Evening News ), Archie Ledbrook ( Daily Mirror ), Henry Rose ( Daily Express ), Eric Thomson ( Daily Mail ) dan Peter Howard ( wartawan foto ). Dan Peter Howard inilah merupakan satu satunya wartawan yang selamat. Ke delapan orang lainnya mati, hampir semua seketika.

Pada hari Kamis tanggal 6 Februari 1958 sore hampir jam 4.15 telepon di kantor redaksi Daily Mail di Fleet Street, London berdering. Pada waktu sore itu seperti biasa antara edisi siang dan petang kantor sepi, semua anggota redaksi seang berduduk duduk di salah satu kedai wartawan di Fleet Street. Telepon diterima oleh seorang pembantu ” Interlokal penting dari Muenchen ” kata petugas kantor telepon. ” yang minta bicara Peter Howard, tapi tidak jelas “, ditambahkannya. Langsung si pembantu tadi memanggil redaktur redakturnya. Benar juga, memang Peter Howard yang berbicara.

Baru saja Peter Howard keluar ari reruntuhan pesawat, pakaiannya koyak, mukanya berlumuran darah, dadanya sakit, napasnya sesak seperti beberapa tulang rusuknya patah.

Inilah laporannya, laporan pertama mengenai malapetaka MU, ” Berita mengerikan,pesawat kami celaka di Muenchen. Kami sudah lepas dari landasan dan baru mau naik. Dalam beberapa detik saja semua sudah lewat. Saya takut ada yang mati. Waktu kami mendarat di Muenchen salju turun dan kami keluar pesawat untuk minum dan meluruskan kaki. Perlu juga isi bensin. Waktu naik rupanya ada sesuatu yang tidak beres. Pilot bertaksi kembali, mungkin untuk memeriksa sesuatu.

Start untuk kedua kalipun gagal, kemudian untuk ketiga kalinya kapten pilot James Thain mencoba start. Pada saat ini Duncan Edwards masih bergurau pada saya, ” Peter jangan malu malu, katakanlah pada pilot Thain, bahwa kaulah yang memasang roda roda persegi “. Barang kali inilah kata kata Duncan terakhir. Kami sudah berada pada akhir landasan dan terasa mau naik tatkala seperti pesawat terpecah dua. Sya masih lihat kursi kursi berantakandan membengkok, semua kacau balau, kemudian sunyi.

Saya sesaat tidak ingat apa apa lagi. Kemudian saya merangkak keluar dari reruntuhan yang sudah mulai tertutup salju. Begitu saya ada di luar rasanya seperti mau berlari menjauh, tercekam oleh rasa takut bukan main. Tapi saya tidak dapat lari, saya berdiri saja, terbengong. Tiba tiba saya melihat Harry Greeg dan kemudian juga Bill Foulkes ( Gregg adalah kiper dan Foulkes bek kanan, TLT ). Bukan main tabahnya Henry Gregg. Dia bilang: ” Beruntung juga kami ini, nah sekarang mari kita menolong yang lain, Kedua pramugari, Rosemary Cheverton dan Margaret Bellis, pun tidak apa apa “.

Berlima kami memasuki reruntuhan, secara otomtis saya membantu Henry dan Bill menggotong keluar mereka yang luka luka atau mati. Saya tidak berani melihat siapa mereka, yang saya ingat Bobby Charlton, Jackie Blanchflowerdan Albert Scanlon, nampaknya tidak luka berat. Trip ke Beograd berjalan lancar, pertandingan luar biasa, terutama Harry Greeg dan Tommy Lawton bermain cemerlang. Saya takut Tommy mati, sudah sampai di sini saja. Kepala saya bukan main sakitnya. Katakan pada istri saya secepatnya saya akan kembali ke Manchester “.

TELEPON TERAKHIR.

Wartawan lain tidak begitu beruntung seperti Peter Howard. Tepat sebelum take off terakhir Alf Clarke dari Manchester Evening Chronicle, masih sempat menelepon redaksinya, ” Keadaan cuaca begitu buruk sekali dan ada sesuatu dengan mesin pesawat. Mungkin kami akan menginap di sini. Oh tunggu sebentar. Katanya, setelah berunding dengan crew dan dinas keamanan pelabuhan udara Matt Busby memutuskan untuk melanjutkan juga perjalanan. Saya harus naik pesawat,mereka sudah menarik lengan saya. Sebentar lagi kami bertemu di redaksi, ulasan saya mengenai pertandingan sudah selesai. ” Ulasan Clarke tidak pernah dimuat di Evening Chronicle, terbakar bersamanya.

” ingatlah Matt, minta penundaan pertandingan kompetisi untuk Europa Cup adalah hal yang sangat memalukan bagi kami. Janganlah sampai terjadi !” Kata kata semacam ini dari mulut ketua MU terus teringat oleh Matt Busby ketika terbaring di rumah sakit ” Rechts der Isar ” di Muenchen, bergumul dengan maut. Dan karena kata kata demikianlah sembilan pemain berbakat, pemain2 berharga puluhan ribu pounds mati konyol. Duncan Edwards, Tommy Lawton, Roger Byrne, Eddie Coleman, Mark Jones, David Pegg, Bill Whelan, Johny Berry dan George Bent.

Pada malam tanggal 6 Februari 1958, malam malapetaka, ribuan orang berduyun duyun datang memenuhi stadion “Old Trafford ” di Manchester. Tepat dari tempat titik putih di tengah tengah lapangan pendeta Clifford Webb memimpin kebaktian kedukaan, dia berkata antar lain : “……….mereka masih terlampau muda untuk meninggalkan dunia ini ……………..”

THE GAMES MUST GO ON………

Adalah khas bagi orang Inggris, bahwa dalam keadaan apa pun ” games ” harus tetap berlangsung. Pengurus Bintang Merah, Beograd, AC  Milan ( semifinalis Europa Cup ), dan Real Madrid ( finalis Europa Cup ) mengusulkan agar kesebelasan MU seperti yang telah bertanding untuk terakhir kali di Beograd, secara anumerta dinyatakan sebagai juara Europa Cup 1958. Tapi bagi Harold Hardman dan MUnya dirasakan lebih sesuai dengan jiwanya, kalau mereka terus berjuang apa pun yang dihadapi.

Pada hari Sabtu itu juga sedianya dalam rangka kompetisi MU turan gelanggang melawan Wolverhampton Wanderers dan hari Rabu kemudian dalam rangka F.A Cup melawan Sheffield Wednesday. Tapi pertandingan kompetisi ditunda juga. 13 hari kemudian setelah malapetaka kesebelasan MU bertanding lagi di Old Trafford melawan Sheffield Wednesday. Harry Gregg menjaga gawangnya lagi dan Bill Foulkes memimpin barisan belakang, dua pemain yang secara luar biasa terhindar dai maut. Julukan ” Busby Babes ” makin tepat, Alec Dawson ( 17 tahun ), Mark Pearson ( 18 tahun ), dan Seamus Brenan ( 18 tahun ) terdapat di antara yang muda muda. Dua pemain berhatga dibeli, Ernie Taylor dari Blackpool dan Stan Crowter dari Aston Villa.

AKIBAT PSIKOLOGIS.

Malapetaka yang dialami menempatkan MU dalam keadaan yang serba unik. Spirit ” The Games must Go ON “dan dukungan moril yang berlebihan dari publik sepakbola Inggrispada permulaan memberikan semangat raksasa kepada pemain pemain. Dalam F.A Cup di babak seperdelapan final, 13 hari setelah malapetaka , Sheffield Wednesday disapu bersih ( 3-0 ). Masing masing lewat dua kali pertandingan , lawan Bromwich Albion dan Fulham. ” The Mancunians ” sampai juga di final F.A Cup. Tetapi di cup final inilah, di mana hadir juga walaupun masih pincang, Matt Busby, kesebelasan MU yang seperti kerasukan mengalami ” breakdown “. Mereka kalah 0-2 dari Bolton Wanderes.

Tetapi untuk semifinal mereka harus pergi ke Beograd, di mana 8 tahun sebelumnya enam ” Busby Babes ” untuk terakhir kali main. Kali ini lawannya adalah kesebelasan Partizan. Di stadion Beograd  itu termuat bagi  Matt Busby, Harry Gregg, Bobby Chalton, dan Bill Foulkes, kesebelasan MU bertanding lawan dua musuh, kesebelasan Partizan dan diri sendiri. Kenangan 8 tahun yang lampau etrus menghantui. Sedianya Partizan bisa lebih menang lebih besar daripada 2-0. Di Old Trafford kemudian MU bertanding dengat semangat biasa, tetapi kemenangan 1-0 tidak cukup untuk membawa mereka ke babak final Europa Cup 1966.

Di babak semifinal Europa Cup kemudian lawan AC Milan, kesebelasan MU dari yang semula. Mereka kalah 0-1 ( di Manchester ) dan 0-4 ( di Milano ).

8 tahun kemudian MU kembali dalam kejuaraan Europa Cup. Sekitar Harry Gregg, Bill Foulkes, dan Bobby Charlton, Matt Busby berhasil membangun kembali kesebelasan kuat, a.l : diperkuat oleh George Best, Nobby Stiles, dan Denis Law. Antara lain lewat Benfica mereka mencapai babak semifinal, dan semua orang tidak sanksi sedikitpun, bahwa MU akan mencapai juga babak final.

Monumen, Untuk mengenang peristiwa  Tahun 1958

Monumen, Untuk mengenang peristiwa  Tahun 1958

sumber : http://ahyo443066.wordpress.com/2009/01/17/malapetaka-olahraga-terhebat/

Inilah lagu Iwan Fals “Bongkar” Yang dibajak India


(istimewa)

Lagi-lagi lagu karya musisi Indonesia dibajak musisi dan penyanyi India. Kali ini lagu “Bongkar” Iwan Fals yang berkolaborasi dengan kelompok Swami.

Lagu itu diaransemen ulang dan dinyanyikan oleh musisi India dengan bahasa mereka. Dan judul lagu itu berubah menjadi ‘Oya Oya’ yang merupakan soundtrack film India “Horn Ok Pleassss”.

Seperti ditulis http://www.iwanfalsmania.blogspot.com, penggunaan aransemen lagu “Bongkar” oleh musisi India tanpa persetujuan dari pengarang lagu ini yaitu Iwan Fals dan kelompok Swami. Juga tidak ada izin dari label yang memayungi album Iwan dan Swami, yaitu Airo Records.

Ini berarti, lagu “Bongkar” telah dijiplak musisi India. Intro dan reffrain lagu versi India ini benar-benar mirip dengan versi Iwan Fals. Perbedaan hanya terdapat pada bagian kecil dan tentu saja bahasa yang digunakan.

“Kita jadi kembali ingat tentang kasus lagu ‘Tak Bisakah’ milik band Peterpan yang menjelma menjadi ‘Kya Mujhe Pyar Hai’. Lagu Peterpan itu dijiplak habis oleh musisi India dan menjadi lagu yang populer serta menduduki puncak tangga lagu cukup lama di India. Namun menurut kabar berita, pihak Musica Studio (label album Peterpan) telah menyelesaikan kasus penjiplakan ini dengan kekeluargaan,” tulis http://www.iwanfalsmania.blogspot.com.

Menariknya lagi, orang yang menyanyikan “Oya Oya” dan “Kya Mujhe Pyar Hai” adalah penyanyi yang sama. Dia adalah penyanyi India bernama Kay Kay.

Dikhawatirkan, musisi India sedang melakukan ‘balas dendam’ sebab lagu-lagu mereka juga sering menjadi objek plagiarisme oleh musisi Indonesia terutama lagu-lagu dangdut. Bagi Anda yang ingin melihat sejauhmana penjiplakan itu persianya bisa dilihat dan didengarkan pada YouTube atau klik dari http://www.iwanfalsmania.blogspot.com[L1]INILAH.COM

klik ini untuk denger bajakannya

Kuku Panjang Terpanjang Dunia Dipatahkan Kecelakaan Mobil

Salt Lake City: Kuku panjang dunia milik Lee Ridmond, yang membuatnya tercatat di Guinness Book of World Records, berantakan pada pekan ini karena kecelakaan mobil.

Warga Salt Lake City, Amerika Serikat, itu terakhir memotong kuku pada 1979. Menurut buku  Guinness Book of World Records, tahun lalu panjang total total ke-10 kuku tangannya adalah 8,65 meter. Kuku terpanjangnya sendiri adalah yang tumbuh dari jempol tangan kanan yakni 90 sentimeter.

Menurut polisi, Redmond mengalami kecelakaan serius sehingga mesti diseret keluar dari mobil SUV yang membawanya dan digotong ke rumah sakit. Nyawanya memang tidak terancam, tapi rekor dunianya sudah jelas lepas dari tangannya.TEMPOINTERAKTIF

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!