Saburo Sakai Ace Pilot “Zero” PD II


Sebelah matanya buta. Empat kali lolos dari maut. Tapi kali ini serangan jantung yang mengakhiri hidupnya pada 26 september 2000. Bukan peluru sekutu. Dialah Saburo Sakai, satu-satunya ace Jepang semasa PD II yang berhasil hidup hingga usia 84 tahun. Total korban adalah 64 pesawat.

Hari itu, 17 Mei 1942 segerombolan Zero asal satuan Tainan ku yang ber-pangkalan di Lae, terbang ke arah Port Moresby. Cuaca terang dan matahari bersinar dengan teriknya. Tujuannya membabat sarang Grup Tempur Udara ke-49 Sekutu. Setelah menyapu sasaran, gerombolan tadi bertemu dengan tiga formasi P-39 Airacobra yang berhasil mengudara. Terjadilah duel udara. Enam P-39 berkeping-keping. Dua diantaranya milik Saburo Sakai. Sementara Jepang sendiri harus merelakan dua Zeronya. Misi hari itu rampung sudah.

Score: 64

Tapi tak begitu bagi, Saburo Sakai, Hiroyoshi Nishizawa, dan Toshio Ota. Dengan alasan mengejar musuh, ketiganya lalu berbalik arah kembali ke Port Moresby. Sebenarnya tidak ada lagi P-39 yang harus dikejar. Beberapa menit kemudian Zero-Zero mbalelo ini tiba kembali di atas Port Moresby. Setelah yakin tak ada pemburu sekutu yang berkeliaran, ketiganya kemudian membuat formasi rapat. Sangat rapat antar ujung sayapnya.

Berturut-turut adalah pesawat Saburo, Ota, dan Nishizawa menukik sampai 6.000 kaki, sebelum akhirnya melakukan tiga kali loop. Melihat tak ada reaksi, kembali ketiganya mengulangi “tarian udara” tepat di depan hidung tentara sekutu. Danse Macabre atau tarian kematian, begitu nama suguhan tadi.

Terlahir dengan nama Saburo Sakai, 26 Agustus 1916 di Desa Saga, Kepulauan Khyusu, Jepang. Darah Samurai mengalir dalam tubuh anak ketiga dari empat laki-laki serta tiga perempuan. Tak lain karena nenek moyang Saburo sebenarnya adalah prajurit semasa Shogun. Hanya bertumpu pada ibunya seorang, keluarga Saburo menyandarkan kehidupan ekonomi. Sang ayah telah wafat ketika Saburo berumur 11 tahun.

Pelarian mungkin kata yang cocok saat Saburo memutuskan masuk dinas AL pada tahun 1933. Lantaran gagal meneruskan sekolah di Tokyo. Pendidikan pelaut dijalani selama enam bulan di Pangkalan AL Sasebo. Geladak kapal perang Kirishima jadi kantor pertamanya. Dua tahun kemudian pendidikan juru tembak meriam dijalaninya. Begitu rampung Saburo ditempatkan sebagai operator meriam kaliber 16 inci pada kapal perang Haruna.

Nasib mulai berubah dua tahun kemudian. Saat Saburo mencoba masuk sekolah penerbangan AL. Dari 1.500 pemuda yang turut mendaftar, hanya 70 yang diterima termasuk Saburo. Pendidikan dipusatkan di Pangkalan AL Tsuchiura. Semasa tiga bulan pendidikan penerbangan, diajarkan taktik bertempur, terbang malam dengan mengandalkan bintang-bintang saja. Demikian juga cara-cara mendaratkan pesawat di atas kapal induk. Tapi ironis, sepanjang perjalanan karir tempurnya, Saburo tak pernah sekalipun mendarat di kapal induk.

Kiprahnya dalam medan pertempuran sungguhan dimulai di Cina pada Mei 1938. Saat bala tentara Jepang bergeser tempat dari Formosa ke Kiukiang, di daratan Cina. Tugas pertamanya adalah mendukung gerakan-gerakan pasukan darat. Maklum, saat itu Saburo masih terhitung perwira muda dan miskin pengalaman. Sesuai pakem satuan udara AL, tugaspun diberikan yang enteng-enteng saja.

Tepatnya pada 21 Mei, pertama kali Saburo terlibat pertempuran udara. Ketika itu operasi udara digelar untuk menyerang Lanud Hankow, sarang pemburu-pemburu Cina. Tiba-tiba pada ketinggian 10.000 kaki, 15 pemburu Mitsubishi Tipe 96 Claude kepergok E-16 milik Cina. Kecuali Saburo, semua pilot Claude buru-buru melepas tanki cadangan. Tak ayal, duel udara terjadi. Bingung campur grogi melanda Saburo. Bahkan saat sebuah E-16 tepat berada di depan mata, senapan mesin di pesawatnya tak mau menyalak. Saburo lupa membuka kunci senapan mesin! Beruntung seorang pilot senior terus menjagainya. sehingga lolos dari jebakan maut pemburu-pemburu Cina.

Sejak saat itu, perlahan Saburo mulai terbiasa terjun dalam duel udara. Walau belum ada sebuah pesawat musuhpun yang jadi korbannya. Hal ini terus bertahan sampai pada 11 Agustus 1941. Tak lagi di atas Claude, tapi Mitsubishi A6 M Zero, pemburu teranyar Jepang. Bersama dengan tujuh pembom Mitsubishi G 4M Betty, Zero-zero tadi menyerang Chengtu. Akibatnya semua E-16 Cina berantakan tanpa sempat mengudara. Sebuah diantaranya menjadi korban Saburo saat coba-coba untuk take off.

Saburo Sakai´s A6M2 airplane

Saburo Sakai´s A6M2 “Zero” airplane, Tainan Kokutai, Bali Island, 1942.

Tapi misi hari itu belumlah berakhir. Saat akan kembali, gerombolan Zero tadi memergoki sebuah pesawat bersayap ganda. Tiga Zero menukik tajam dari ketinggian 7.000 kaki, menyergap pesawat antik itu. Dengan berguling ke kanan-kiri, si sayap ganda tadi lolos. Sampai akhirnya bertemu dengan tebing yang membuatnya menanjak. Sasaran empuk! Tanpa buang-buang waktu, Saburo yang kini mendapat giliran menghujani dengan peluru-peluru kanonnya. Blam-blam-blam, peluru menembus dek kokpit. Tak urung pesawat bergerak liar dan bum menghujam ke bumi.

Tiga SekawanTIGA SEKAWAN – Saat bertugas di Lae, Saburo bertemu dengan dua rekan lainnya. Yaitu Nishizawa dan Ota.

September 1941, Saburo ditarik kembali ke Formosa (sekarang Taiwan). Misi yang diemban masih belum menentu. Tapi yang jelas bersama dengan 150 orang pilot pemburu dan pembom lainnya Saburo mendapat latihan ketat. Misteri ini akhirnya terkuak juga. Jepang berencana menyerang Pearl Harbour. Perang Pasifik segera meletus.

Pada 8 Desember 1941 Perang Pasifik pecah. Tiga hari setelah perang pecah, menjadi pengalaman tak terlupakan bagi Saburo. Saat itu untuk pertama kali ia bertemu pembom B-17 Flying Fortress. Pesawat penyandang predikat paling susah dijatuhkan. Saat itu ada sembilan Zero lain yang ikut mengeroyok. Saburo turut bergabung, bahkan sampai kehabisan peluru. Tapi B-17 yang diawaki Kapten Collin P. Kelly tetap saja bisa kembali ke Lanud Clark dengan tubuh compang-camping. Walau akhirnya pembom ini crash landing.

Waktu terus berjalan. Bala tentara Jepang terus merengsek hingga kawasan Hindia Belanda. Awal April 1942, Saburo dipindahkan dari Rabaul ke Lae, Papua. Dari sarang satuan tempur udara Tainan Ku yang berlumpur serta tanpa hanggar dan miskin fasiltas ini, prestasi Saburo banyak diukir. Di tempat ini juga ia bertemu dua pilot muda bertalenta, yang dikemudian hari jadi sahabat karib di darat maupun di udara. Mereka adalah Nishizawa dan Ota. Nyaris tak ada lagi pesawat sekutu yang selamat bila tiga sekawan ini mengudara. Pantaslah bila julukan The Clean Up Trio menempel pada mereka.

Kemenangan terbesar terjadi pada 16 Juni. Dua minggu setelah kekalahan armada laut Jepang oleh Amerika di Midway. Melibatkan 21 Zero melawan 36 Airacobra yang terbagi jadi tiga formasi. Formasi pertama dan kedua dengan mudah dilibas Zero. Pada babak pertama ini Saburo mengantongi dua pesawat. Kini giliran formasi ketiga yang terdiri versi terbaru dari Airacobra.

Zero menanjak dan Airacobra menukik, kedua formasi berpencar lalu bertemu dalam satu ketinggian. Satu pesawat jadi incaran Saburo. Terjadilah duel udara. Semua manuver dilakukan, spin, loop, snap roll, hingga Immelman. Saburo terus mengimbanginya. Masuk jarak tembak pada jarak 20 yard lalu blam-blam-blam, peluru kanon Zero merobek badan Airacobra. Lalu, Boom, musuh berkeping-keping di udara. Sesaat kemudian sebuah P-39 kembali jadi mangsa Saburo. Empat pesawat jadi korban dalam satu misi! Hari itu, total 19 Airacobra dibantai tanpa kehilangan satu Zero pun.

Mabuk kemenangan melanda Pangkalan Lae ketika semua pesawat berhasil mendarat. Beberapa saat seorang teknisi mengajak Saburo melihat kondisi tunggangannya. Lubang-lubang bekas peluru memang menghampar pada tubuh pesawat. Tapi tercengang Saburo saat melihat ada satu lubang menganga di belakang kokpit. Hanya berjarak enam inchi saja dari kursi Zero nya.

Pertempuran Midway (Juni 1942) jadi titik balik Perang Pasifik. Perlahan tapi pasti sekutu mulai menahan gerak Bala Tentara Jepang. Persis seperti yang dijanjikan Jenderal Mc Arthur. Agustus 1942, Sekutu mendarat di Guadacanal. Jepang berusaha menahannya dengan mengerahkan kekuatan dari Rabaul.

Delapan Agustus jadi hari yang bakal merubah jalan hidup Saburo. Setelah mengantarkan rombongan pembom Betty, Ia melihat satu formasi pesawat sekutu. Wildcat, pikir Saburo. Secepat itu pula pesawat diarahkan, diikuti tiga Zero lain. Musuh paling kanan yang diincar dari belakang. 200 yards…, 100 yards…, 60 yards jarak tembak, tapi… perangkap! Mereka bukan Wildcat. Tapi Avanger, pembom torpedo teranyar sekutu. Punya kubah senapan mesin atas dan bawah di bagian belakangnya. Tak mungkin menghindar. Satu belokan saja, perut Zero jadi makanan empuk. Ditengah hujan senapan mesin, Saburo membalas dengan kanon-kanonnya. Tiba-tiba prang-prang, kaca kokpit berantakan. Sebuah benda tajam terasa menembus telinga kanan. Lalu semuanya berubah jadi merah dan akhirnya gelap.

Beberapa detik pesawat Saburo menukik tak karuan dari ketinggian 10.000 kaki. Sampai akhirnya ia sadar. Dengan susah payah dan menahan sakit, diarahkan pesawat menuju Rabaul, 600 mil dari tempat duel udara. Penglihatannya benar-benar kabur, bahkan untuk melihat jarum kompas sekalipun. Seluruh badan terasa kaku. Hanya feeling saja yang bermain. Sekitar 40 menit Saburo berjuang di udara. Sampai akhirnya melihat sebuah landasan dengan mata kirinya. Rabaul! Pesawat berputar sekali mencari posisi mendarat. Lalu, ciiit roda-roda pendarat Zero berdecit menyentuh landasan. Dan berhenti gara-gara kehabisan bahan bakar. Saburo membayar korban ke-62 dengan sebelah matanya.

Tiga hari setelah kejadian, Saburo dikirim kembali ke Jepang. Mata kanannya benar-benar tak berfungsi. Walau telah mendapatkan perawatan terbaik di RS AL di Yokoshuka. Untuk sementara, Saburo dipindah menjadi instruktur terbang di Omura.

Pertengahan 1944 laju sekutu makin tak tertahankan. Truk, Saipan, Guam, dan Filipina jatuh. Okinawa dan Iwojima jadi garis depan. Pada tahun itu juga Jepang membentuk satuan pengawal udara kerajaan (Imperial Air Guard) dengan nama Wing Udara Yokoshuka. Terdiri dari pilot-pilot veteran asal front Cina maupun Pasifik. Tugasnya tak lain adalah menahan invasi Sekutu ke Jepang. Saburo bergabung dengan satuan elit udara ini. Itupun berkat perjuangan Nakajima, komandannya semasa di Lae, yang meyakinkan kemampuan Saburo tak bakal berkurang. Walau telah cacat.

Pada 20 Juni, Saburo berangkat ke Iwo Jima bersama dengan 30 buah pemburu Zero. Untuk menambah 90 pesawat yang telah ada sebelumnya. Empat hari kemudian jadi saat pertama Saburo buat duel di udara dengan satu mata. Ketika sirine tanda serangan udara berbunyi, lebih dari 80 Zero segera mengudara. Lawannya bukan lagi Airacobra atau Wildcat, tapi Hellcat. Pemburu kapal induk Amerika terbaru. Lebih lincah dan lebih bertenaga ketimbang Zero.

Asap mesiu serta pesawat yang terbakar memenuhi udara. Duel bukan lagi adu lincah satu lawan satu. Semuanya bebas. Satu Zero mengejar Hellcat. Sementara di belakang Zero tadi ada lagi Hellcat yang juga di buntuti sebuah Zero. Berselang-seling mengejar musuh masing-masing. Hari itu Saburo mengantongi dua Hellcat. Sehingga mencatat total skor 64 pesawat. Walau demikian hanya separuh armada Zero yang berhasil kembali ke pangkalan. Keadaan ini terus berlanjut sampai akhirnya tak ada sama sekali Zero yang bisa diterbangkan. Sisa pilot yang ada, termasuk Saburo dan Nakajima kembali ke Yokoshuka, Jepang dengan tujuh pembom Betty yang terbang rendah.

Cornel Francis R. Stevens, Jr., United States Army-Retirerd, and Saburo Sakai

          Cornel Francis R. Stevens, Jr., United
States Army-Retirerd, and Saburo Sakai

Awal 1945, Sekutu terus membombardir kota-kota besar di Jepang. Tidak lagi menggunakan B-17 atau B-25, tapi B-29 Superfortress. Pembom yang lebih besar dan lebih cepat. Tigabelas Agustus Jepang menyerah. Tapi tak demikian dengan Saburo dan Kawachi, rekannya di Wing Tempur Udara Yokoshuka. Keduanya berencananya melakukan misi udara terakhir. Sasarannya tak lain adalah B-29 yang membom Tokyo.
Benar saja, malam hari pembom tambun itu melintas. Saburo dan Kawachi memergokinya di atas Pelabuhan Tokyo. Ternyata ada delapan Zero lain yang mengerubuti B-29 yang terbang sendirian itu. Tanpa pikir panjang Saburo mengarahkan pesawatnya ke bagian badan. Blam-blam, peluru kanon Zero meluncur. Tapi pembom itu tak bergeming sedikitpun. Tak kurang akal, Saburo berputar sekali lagi diikuti Kawachi. Kali ini kokpit yang jadi sasaran. Hasilnya segera nyata. Perlahan tubuh pembom raksasa itu menukik. Kehilangan ketinggian dan kecepatan, sebelum akhirnya tercebur ke laut kepulauan O Shima. Misi terakhir Saburo, sang elang asal kerajaan matahari, berjalan sukses.

Lt. Saburo Sakai

On September 2000, while attending a dinner at Atsugi Naval Base, Saburo Sakai suffered
a heart attack when he extended his handover the table to greet an American officer. He died at the hospital a few hours later at the age of 84.

(sumber: Angkasa-online.com,http://aguzto.blog.friendster.com/2008/10/saburo-sakai-elang-dari-kerajaan-matahari/)

    • Mojero
    • Januari 16th, 2013

    Mangstaaappp gan, thx udah sharing sejarahnya..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: