Qaddoumi: Indonesia Permalukan Umat Muslim Sedunia


Louay Qaddoumi adalah kepala seksi berita internasional di harian independen Al Watan yang terbit di Qatar. Sudah belasan tahun ia bekerja sebagai jurnalis di negeri monarki absolut yang dipimpin keluarga Al Thani itu.

Sebagai kepala seksi berita internasional sudah barang tentu laki-laki ke lahiran Jordania ini mengikuti dari dekat berbagai peristiwa politik di banyak negara, tidak terkecuali di Indonesia.

Dia dengan fasih dapat menceritakan berbagai problem yang dihadapi Indonesia, sejak zaman Orde Baru hingga masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Dia tahu bahwa korupsi masih menjadi salah satu persoalan utama Indonesia. Dia juga tahu bahwa banyak koruptor Indonesia yang lari ke Singapura. Dan ini sering membuat hubungan Indonesia-Singapura panas dingin. Begitu juga hubungan Indonesia dengan Malaysia.

Peristiwa eksekusi mati Ruyati, seorang tenaga kerja wanita Indonesia asal Bekasi, Jawa Barat, di Arab Saudi, pertengahan bulan lalu juga diikutinya. Ruyati dinyatakan bersalah karena membunuh majikannya awal 2010 lalu. Perwakilan pemerintah Indonesia tidak mengetahui ketika kepala Ruyati di penggal di barat Mekah.

“Itu tidak akan terjadi kalau Indonesia adalah negara yang disegani Arab Saudi. Kalau Indonesia disegani, pasti Raja Arab Saudi akan meminta keluarga korban untuk mengampuni. Dan pasti bisa diampuni,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka Online dalam perjalanan dari Rabat menuju bandara Internasional Muhammad V di Kasablanka, Maroko.

Indonesia sudah terlanjur dikenal sebagai produsen house maid. Image inilah yang antara lain membuat Indonesia hanya dipandang sebelah mata oleh masyarakat dunia, termasuk negara-negara Timur Tengah yang banyak mempekerjakan pembantu asal Indonesia.

“Saya tidak pernah bertemu dengan orang yang mengatakan akan ke Indonesia. Pemerintah Indonesia harusnya malu karena tidak bisa menjadikan negara dengan potensi yang begitu sebagai negara yang patut dihormati oleh dunia internasional,” katanya lagi.

Louay Qaddoumi telah mengunjungi beberapa negara Asia, seperti Jepang, China dan Koreas Selatan. Malaysia dikunjunginya beberapa kali. Bulan Desember nanti, ia dan keluarganya akan beramai-ramai datang ke Malaysia. Sejauh ini, sebutnya, ia sama sekali tidak pernah berencana melakukan perjalanan ke Indonesia.

Wajar bila pernyataan Louay Qaddoumi membuat panas telinga sementara orang Indonesia. Tapi jangan buru-buru marah. Pikirkan sekali lagi.

Keluarga Louay Qaddoumi di Qatar pernah mempekerjakan seorang pembantu dari Indonesia. Sumirah, namanya. Setelah bekerja selama tiga tahun, beberapa tahun lalu Sumirah pulang ke Indonesia. Menurut Louay Qaddoumi, Sumirah adalah pembantu yang cerkatan dan cukup bisa diandalkan. Ketika Sumirah mau berhenti, ibumda Louay Qaddoumi menawarkan gaji dua kali lebih besar. Tapi Sumirah bersikeras pulang ke Indonesia karena anak perempuannya sudah semakin besar.

Salah satu hal yang disesalkan Louay Qaddoumi adalah ketidakmampuan pemerintah Indonesia memaksimalkan potensi pariwisata. Industri pariwisawat Indonesia nol besar. Dalam beberapa dekade terakhir ini Bali tetap masil lebih dikenal daripada Indonesia.

Menurut Louay Qaddoumi, dan ini bukan pandangan yang baru sama sekali, daripada mengirimkan tenaga kerja ke luar negeri, jauh lebih baik bila pemerintah Indonesia membangun industri pariwisata yang kuat. Bayangkan multiplier effect yang dihasilkan industri turisme. Berapa banyak pekerja yang terserap dan berapa banyak orang yang selamat dari jerat kemiskinan. Kalau kedua hal itu tercapai, Indonesia akan menjadi negara yang stabil secara politik.

Popularitas Indonesia, sebutnya lagi, kalah jauh dibandingkan Malaysia yang berani mempromosikan diri dengan menggunakan tagline “Trully Asia”. Selain mempromosikan diri, Malaysia terlihat sungguh-sungguh membangun industri pariwisata.

Malaysia masuk dalam daftar top ten jumlah turis mancanegara. Malaysia berada di peringat ke-9 dengan jumlah wisman sebanyak 23,65 juta orang per tahun. Sementara jumlah wisman yang mengunjungi Indonesia dalam satu tahun masih berada di kisaran 6 juta orang.

Masih menurut Louay Qaddoumi, secara umum ada dua sebab utama mengapa Indonesia termasuk negara yang jeblok di sektor pariwisata. Pertama, promosi yang sangat kurang di dunia internasional. Kedua, ya itu tadi, image Indonesia sebagai negara penghasil pembantu masih lebih kuat daripada image Indonesia sebagai anggota G-20 dan negara demokratis.

Kenyataan Indonesia dikenal sebagai penghasil pembantu juga merusakan image umat Muslim secara global. Bayangkan, Indonesia adalah negara dengan umat Muslim terbanyak di dunia. Semakin banyak pembantu yang dikirimkan ke luar negeri, semakin kuat anggapan masyarakat dunia bahwa Islam tidak mampu mensejahterakan manusia.

“Hanya negara miskin yang tak punya lapangan pekerjaan yang mengirimkan warga negaranya ke luar negeri. Sementara kemiskinan sangat dekat dengan ketidakamanan, ketidaknyamanan dan kekacauan,” demikian Louay Qaddoumi.

@rakyatmerdekaonline

    • ridwan saidi
    • Agustus 2nd, 2011

    benar….

  1. Reblogged this on iwanb86.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: