Kisah Wahono, Tersangka Teroris yang Gagal Menikah dan Digantikan Adiknya


Wahono alias Bawor salah satu tersangka teroris dari Lampung, yang telah di amankan oleh Densus 88 karena diduga sebagai pemasok senjata api kepada pelaku perampokan di Medan beberapa waktu lalu. Dia gagal menikahi Siti Alianti (31). (foto: Radar Lampung)
Wahono alias Bawor salah satu tersangka teroris dari Lampung, yang telah di amankan oleh Densus 88 karena diduga sebagai pemasok senjata api kepada pelaku perampokan di Medan beberapa waktu lalu. Dia gagal menikahi Siti Alianti (31). (foto: Radar Lampung)

H-1, Meralat Nama Pengantin Pria ke Penghulu

Ketika ditangkap Densus 88 pada Selasa pagi lalu (21/9) karena diduga terlibat perampokan Bank CIMB Niaga Medan, Wahono sebenarnya akan menikah keesokannya. Akhirnya, pernikahan tetap dilaksanakan. Tapi, posisi Wahono digantikan adiknya.

Handy Setyo B., Bandar Lampung
—————————— ————

Kemarin siang (24/9), suasana di sebuah rumah di Jalan Pulau Seribu A No 21, Sukarame, Bandar Lampung, terlihat dipadati beberapa orang. Di depan rumah bercat hijau itu, ada sebuah tenda yang layaknya dipasang di rumah-rumah yang akan punya hajat. Juga, sudah ada panggung berukuran sekitar 4 x 4 meter.

Siang itu, terlihat lima anak sedang bermain di panggung tersebut. Di dalam rumah sederhana itu, tampak enam wanita (kebanyakan sudah ibu-ibu) sedang sibuk menyiapkan berbagai keperluan. Ada yang memasak, ada yang mengguntingi tisu, dan ada yang menyiapkan kue di dalam kotak. Berbagai persiapan tersebut dilakukan untuk acara resepsi pernikahan pasangan pengantin Teguh Subagio, 25, dan Siti Alianti, 31, yang dilangsungkan besok (26/9).

“Silakan masuk Mas,” kata Siti kepada Radar Lampung (Group JPNN) kemarin siang. Siang itu, sang suami, Teguh, sedang bekerja. “Suami saya bekerja di rumah sakit umum. Kebetulan, masih belum bisa ambil cuti. Jadi, setelah akad nikah, langsung bekerja,” ujar Siti lantas tersenyum bahagia. Teguh dan Siti melangsungkan akad nikah pada Rabu lalu (22/9). Sebenarnya, yang menjadi pengantin pria pada akad nikah itu bukanlah Teguh, tapi Wahono, 31. Teguh adalah adik Wahono.

Sehari sebelum akad nikah dilangsungkan (21/9), tepatnya saat pagi, Wahono ditangkap tim Densus 88 di Lampung. Dia diduga terlibat perampokan Bank CIMB Niaga Medan pada 18 Agustus lalu. Wahono berperan memasok senjata api yang digunakan dalam perampokan tersebut. “Awalnya, saya tidak tahu kalau (Wahono) ditangkap. Saya tahu dari paman Wahono. Dia datang ke rumah untuk mencari Wahono karena tidak pulang-pulang sejak sehari sebelumnya,” ungkap Siti. Ketika menceritakan hal tersebut, tak tampak kesedihan di wajah Siti.

Akhirnya, hari itu pula diketahui bahwa Wahono ditangkap Densus 88. Keluarga pun shock mendengar kabar tersebut. “Ya kami bingung aja. Akad nikah akan dilangsungkan besoknya, tapi yang laki-laki tidak ada. Apalagi, seluruh undangan sudah disebar,” cerita Siti. Hari itu juga (21/9) keluarga Wahono mendatangi kediaman Siti dan menjelaskan kejadian sebenarnya. Lalu, setelah melalui musyawarah keluarga, diputuskanlah Teguh Subagio menggantikan sang kakak.

Kebetulan, Teguh maupun Siti sama-sama tidak berkeberatan. Langkah selanjutnya, keluarga Teguh mendatangi penghulu untuk memberi tahu perubahan nama pengantin pria. “Hari Selasa (21/9) pukul empat sore baru diberi tahu bahwa pengantin prianya diganti,” kata Darmi, 50, penghulu Sukarame yang menikahkan Teguh-Siti. Akhirnya, akad nikah pun dilaksanakan sesuai jadwal undangan yang disebar. Pasangan tersebut mengikat ijab kabul di kediaman Siti. Saat itu, pengantin pria datang dengan 20 anggota rombongan. Mereka mencarter angkot. Pernikahan keduanya dilakukan secara sederhana pukul 09.30 dan selesai pukul 10.00 WIB.

Bagaimana Siti menyikapi pernikahannya yang akhirnya bersanding dengan pria pengganti itu” Dia tampak santai. “Jodoh saya mungkin Teguh, bukan Wahono,” katanya. Dia menambahkan, sebelum akad nikah, dirinya menegaskan kepada Teguh bahwa pernikahan itu harus diniati untuk selamanya. Jadi, tidak sekadar menutupi malu karena undangan telanjur disebar. “Saya tegaskan kepada Teguh, jika pernikahan tersebut hanya untuk satu dua hari, mending nggak usah. Teguh pun setuju,” paparnya.

Siti tidak mengetahui bahwa Wahono terlibat masalah pidana. “Kebetulan, saya memang tidak suka pacaran. Kalau memang suka, datang ke rumah dan berbicara kepada orang tua saya. Jika orang tua saya setuju, saya juga setuju,” bebernya. “Saat itu, Wahono terlihat baik. Masak kalau orang baik saya tolak Mas. Tapi, kalau tahu dia ada masalah, saya juga tidak mau lah Mas,” ujarnya lantas tersenyum.

Kini, setelah melangsungkan akad nikah, Siti mengaku merasa bahagia. Saat ditanya apakah dirinya dan sang suami akan pindah setelah resepsi, dia menyatakan akan tinggal di kediamannya sampai bisa membangun rumah sendiri. “Ini rumah orang tua saya Mas. Saya dan suami saya tinggal di sini. Memang ini permintaan saya kepada suami saya. Tapi, jika nanti sudah bisa membangun rumah sendiri, mungkin akan pindah. Mohon doanya Mas,” ungkapnya.

Di bagian lain, kediaman Wahono di Jalan Imam Bonjol, Gang Durian 2, Gedong Air, Tanjungkarang Barat (TkB), terlihat sepi. Namun, wartawan koran ini disambut Naria. Perempuan yang sudah terlihat sepuh itu adalah ibu Wahono. Ketika diberi tahu bahwa sang menantu, Siti, sudah bisa menerima Teguh Subagio sebagai suaminya, Naria pun tersenyum. “Syukurlah kalau begitu. Itu yang kami harapkan,” katanya. (jpnn/c5/kum)

sumber : 1

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: