Bocah SD Mengaku Bunuh Ibu Angkat


JAKARTA, TRIBUN— Seorang siswa sekolah dasar berinisial M (10) mengaku membunuh ibu angkatnya, Ety Rochyati (55). M mengaku kesal karena sering dimarahi. Akan tetapi, polisi tidak tergesa-gesa menetapkan M sebagai tersangka.

”Masih harus kami selidiki, ini pengakuan jujur atau pengakuan di bawah ancaman. Kalau jujur, apakah anak ini melakukan dengan sadar atau karena stres. Banyak aspek yang membuat polisi tidak boleh tergesa-gesa menetapkan tersangka dalam kasus anak di bawah umur,” ucap Kepala Polsek Metro Ciracas Komisaris Ngadiyo kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa (13/10).

Kasus ini berawal dari penemuan jenazah Ety di selokan belakang rumahnya di Jalan Sembung I Nomor 137 RT 01 RW 07 Kompleks Perumahan Angkatan Darat, Cibubur, Jakarta Timur, Selasa pukul 05.00.

Jenazah ditemukan polisi setelah suami korban, Amir Hamzah (57), dan anaknya, Zulkarnaen Iskandar (28), pukul 01.00 melapor ke Polsek Metro Ciracas bahwa korban hilang sejak Minggu. Polisi menemukan korban dalam selokan selebar sekitar 40 sentimeter di belakang rumah. Ketika ditemukan, polisi melihat tiga titik luka akibat benda tumpul di kepala belakang korban. Selain itu, ada sebilah pisau menancap di pinggang kiri tanpa noda darah. Itu karena, Ngadiyo menduga, pisau ditikamkan ke tubuh korban setelah korban meninggal.

Jenazah kemudian dibawa ke RS Polri Kramat Jati, Jaktim, untuk diotopsi. Selasa malam, jenazah sudah ada di rumah duka.

Menurut Hadi Suhaedi (49), sekretaris RT setempat, jenazah akan dimakamkan di TPU Pondok Ranggon, Jaktim. ”Keluarga tinggal menunggu kakak kandung almarhumah tiba dari Palembang,” katanya.

Menonton televisi

Ngadiyo menjelaskan, hari Minggu pukul 07.00 Amir keluar rumah mengantar Zulkarnaen kembali ke Bandung. Amir hanya mengantar anaknya sampai sekitar Universitas Kristen Indonesia, Cawang, Jaktim.

Ngadiyo menduga, saat itulah M, seperti pengakuannya kepada polisi, memukul ibu angkatnya dari belakang dengan balok kayu satu kali, lalu memukul lagi dengan martil dua kali.

”M mengaku melakukan hal itu saat ibunya menonton televisi, yaitu saat Amir dan Zulkarnaen meninggalkan rumah,” kata Ngadiyo. ”Pelaku pembunuhan adalah orang dekat korban. Sampai sekarang M baru kami tetapkan sebagai saksi kunci. Sekarang dalam penanganan unit pelayanan perempuan dan anak.”

Amir tiba di rumahnya pukul 11.00. Ia mendapati rumah sudah kosong, terkunci. Ia mengira istrinya sudah berangkat ke hajatan di Bekasi. Amir pun memberi tahu tetangga bahwa ia akan ke Bekasi menyusul istrinya.

Karena di tempat hajatan Amir tidak menemui Ety, ia menelepon Zulkarnaen memberi tahu bahwa Ety hilang. Keduanya lalu melaporkan ke polisi, termasuk menghilangnya M.

Menurut Ngadiyo, M berasal dari Nias. Semua keluarganya tewas saat tsunami menerjang Nias. Dua tahun terakhir, ia diangkat anak oleh Amir dan Ety.

Sejumlah warga, termasuk Hadi, mengatakan, sampai pukul 22.00 hari Minggu lalu, rumah Amir gelap tanpa penghuni. Mereka sempat melihat M tidur berpindah-pindah di emperan rumah warga. Saat berjalan, M seperti kebingungan. Warga lalu menitipkan M ke seorang guru mengaji sampai akhirnya dibawa ke Polsek Metro Ciracas pada Selasa kemarin. (kcm)

    • Nancy
    • November 18th, 2009

    busyet..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: