Setelan Jas Anti Virus H1N1 Dijual Seharga Rp 5,48 Juta


Jas anti flu H1N1 (Credit: Haruyama Trading)

Tokyo – Surya- Kekhawatiran akan penyebaran virus flu H1N1 mendorong salah satu perusahaan pakaian di Jepang membuat inovasi baru. Mereka menciptakan setelan jas yang diklaim bisa melindungi si pemakai dari virus H1N1.

Adalah perusahaan Haruyama Trading Company yang menciptakan baju tersebut. Harian Mainichi Daily News melaporkan, Rabu (7/10), baju ini mengandung beberapa bahan kimia yang telah melewati beragam percobaan. Permukaan jas itu dilapisi titanium dioksida, bahan kimia yang biasa digunakan untuk pasta gigi dan kosmetika. Lapisan ini bereaksi terhadap sinar dan mampu memecah serta mematikan virus H1N1 yang menyentuh permukaannya.

Stelan jas ini tak kalah keren dengan busana-busana kantoran yang biasa dikenakan para eksekutif atau politisi. Haruyama menyediakan empat warna dan model pilihan. Pembeli bisa memilih antara warna abu-abu terang, arang, biru gelap, dan abu-abu bergaris.
Juru bicara Haruyama, Junko Hirohata, mengungkapkan, pihaknya baru memproduksi 50.000 stel jas. Selama setahun, produsen pakaian pria ini melakukan penelitian untuk menciptakan pakaian tersebut.

Mereka menjamin, bahan sakti itu tidak akan menguap begitu saja meskipun berkali-kali dicuci.
Setelan baju ini rencananya dilepas ke pasaran Sabtu (10/10) mendatang dengan harga 52.290 yen (Rp 5,48 juta) di toko-toko Haruyama di seluruh wilayah Jepang. Namun ada penawaran khusus bersamaan berbarengan dengan pembukaan toko Haruyama di dekat pintu keluar Stasiun Shinjuku di Tokyo, Kamis (8/10).

Nah, mulai hari ini di toko tersebut, setelan tersebut dijual dengan harga khusus 18.900 yen (Rp 1,89 juta). Penawaran spesial ini hanya berlaku di toko tersebut hingga 18 Oktober mendatang. Ada empat warna baju yang bisa dipilih. Mulai abu-bau, hitam, biru laut dan abu-abu bergaris.
Sejak menjadi kasus global setahun yang lalu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mendata 340.000 kasus di seluruh dunia, 4.100 di antaranya berujung dengan kematian.

Di Jepang sendiri seorang bocah berusia tujuh tahun menjadi korban terakhir yang terinfeksi H1N1 pada 22 September lalu. Ia menjadi pasien termuda dan korban tewas ke-18 virus H1N1.

Virus ini pertama kali mengguncang Meksiko pada 18 Maret silam. Saat itu, banyak warga Meksiko mengalami gejala yang sama. Dari demam, bersin-bersin, batuk, pusing kepala, laiknya orang yang terkena flu.

Namun nyatanya gejala tersebut tidak segera mereda, bahkan menyebar luas. Kemudian diketahui jika mereka terjangkit virus flu H1N1, yang saat itu ramai disebut sebagai flu babi. Buntutnya pemerintah Meksiko terpaksa menutup fasilitas umum dan meliburkan sekolah-sekolah agar virus tidak menyebar ke mana-mana.

Nyatanya pencegahan tersebut tidak menghentikan penyebaran virus. Dalam waktu singkat negara-negara di dunia terjangkit virus ini. Larangan bepergian ke wilayah Meksiko pun dikeluarkan Amerika, China, Inggris maupun negara Eropa lainnya.

Bahkan turis-turis asal Meksiko yang masuk ke sebuah negara harus menjalani proses pemeriksaan yang ketat dan diisolasi. Pada Juni 2009, WHO menyatakan penyakit ini sebagai pandemi.
Virus ini pun tidak pandang bulu. Beberapa selebritas dunia dijangkitinya. Yang terakhir terkena adalah Brian Littrell didiagnosa menderita flu ini. tel/mail/tis surya.co.id

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: