Merasakan Detik-detik Gempa Mengerikan, Beruntung Saya Lolos dari Maut (+video)


Pengantar Redaksi:
Ketika gempa dahsyat mengguncang Sumatera Barat (Sumbar), Rabu (30/9) pukul 17.16 WIB, wartawati Surya di Malang, Renni Susilawati, sedang berada di kota Padang. Ia nyaris menjadi korban. Berikut kesaksiannya:

Tulisan ini saya baru bisa buat setelah tiba di Malang, Jumat (2/10). Saat masih berada di kota Padang dan Pariaman, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Selain keluarga besar saya ikut menjadi korban, semua fasilitas pengiriman berita lumpuh. Listrik mati, telepon terputus. Saya benar-benar trauma, tidak tahu mau bikin apa.
Saya sudah berada di Pariaman seminggu menjelang Hari Raya Idul Fitri. Keluarga besar kami memang janjian untuk bertemu di kampung halaman. Suasana seperti ini jarang terjadi. Saya termasuk datang dari jauh. Memang, sejak kuliah di Universitas Brawijaya hingga kerja dan menjadi wartawan Surya, saya menetap di Malang, Jawa Timur.
Ketika gempa terjadi Rabu (30/9) pukul 17.16 WIB, saya sedang berada di kota Padang. Saya berputar-putar di tengah kota untuk mencari oleh-oleh buat teman-teman kerja. Karena besoknya, Kamis (1/10), saya sudah akan kembali dengan penerbangan pesawat BataviaAir Padang-Surabaya.

Hujan Deras

Teriakan panik dan isak tangis warga Padang dan Pariaman masih tergiang jelas di telinga saya. Wajah-wajah panik anak-anak yang menangis karena kehilangan ibu dan ayah mereka, serta orang dewasa yang panik melihat rumah yang menjadi tempat berteduh sudah rata dengan tanah, terus berulang kali hadir dibenak saya.

Tak ada lagi yang bisa saya – dan korban lainnya -lakukan usai gempa dengan kekuatan 7,6 Skala Richter (SR) menguncang dan memorak-porandakan daerah kami. Kami pun terpaksa tidur di teras rumah tetangga yang masih tersisa sambil menahan dinginnya guyuran hujan yang turun sesaat setelah gempa terjadi, hingga pagi hari.

Masih jelas betul dalam ingatan saya, sore hari itu cuaca tak sepanas biasanya di jantung kota Padang, ibu kota Sumatera Barat. Kota yang berada dekat dengan pantai itu terasa sangat bersahabat. Saya pun menjadi lebih bersemangat menghabiskan waktu mengitari pertokoan dan beberapa mall di Kota Padang sekadar melepas kerinduan setelah cukup lama tak pulang ke tanah kelahiran saya itu.

Namun kehangatan sore itu berubah menjadi kepanikan. Gempa dahsyat itu datang tanpa diawali gempa kecil seperti biasanya. Teriakan kepanikan dan tangisan terdengar dimana-mana. Angkutan kota (angkot) yang saya tumpangi dari Pasar Raya Padang menuju Tabing pun langsung berhenti di tengah jalan di kawasan Air Tawar Kota Padang tepatnya di depan Universitas Negeri Padang (UNP).

“Gempa besar, ayo… semua turun. Angkotnya hampir terbalik,” teriak Ujang, sopir angkot yang juga langsung keluar dari kendaraannya.
Para penumpang pun berhamburan turun dan berlari ke taman yang berada di tengah jalan raya. Namun besarnya goncangan gempa membuat saya dan adik perempuan saya, Resi, tak bisa menggapai taman kecil itu dan terjerembab jatuh ke aspal.

Belum lagi gempa yang mahadahsyat itu reda, sebuah biro perjalanan berlantai dua yang berada beberapa meter dari tempat saya berdiri pun ikut ambruk. Seketika debu putih akibat runtuhan gedung itu mengaburkan pemandangan saya. Sayup-sayup saya mendengar sejumlah orang berteriak asap putih itu adalah ombak laut yang datang menhantam Kota Padang. ”Jangan-jangan itu memang tsunami. Tampaknya umur kita hanya akan sampai disini,” ungkap Resi, sambil menangis.
Mendengar teriakan panik itu saya hanya bisa berdoa agar diberikan kesempatan untuk hidup. Saya berusaha lari menuju pohon besar di tengah jalan raya untuk menyelamatkan diri dari terjangan tsunami, meskipun saya kurang yakin upaya itu bisa menyelamatkan nyawa kami, jika tsunami benar-benar terjadi, mengingat tepat dibelakang kawasan UNP adalah laut lepas.

Belum lagi saya sempat memanjat ke pohon, gempa sudah reda dan beberapa orang berteriak menyatakan itu bukan buih ombak melainkan bangunan yang roboh. Saya pun berlari melihat bangunan yang sudah rata dengan tanah itu. Namun tak lama kemudian terdengar lagi suara bangunan ambruk. Ternyata lantai 1 bangunan kampus Stikes Putra Indonesia ikut roboh.
Tak lama beberapa warga Padang yang tak sempat melarikan diri dari teras beberapa bangunan yang ambruk terlihat merintih minta tolong. Mereka yang selamat karena berlari menjauhi bangunan langsung berlarian menyelamatkan mereka yang terkena reruntuhan. Dalam hitungan menit itu pula, para pengendara langsung memacu kendaraan mereka sekencang mungkin, dengan harapan bisa menyelamatkan diri dari isu tsunami.

Sebagian pengendara sepeda motor tampak membonceng korban gempa yang sudah berdarah-darah. Saya semakin ngeri melihatnya dan terus bersyukur saya masih bisa lolos dari maut tanpa cedera sedikit pun.
Tanpa berpikir panjang saya pun berusaha menghubungi orangtua dan kerabat di Pariaman, tempat keluarga besar saya sedang berkumpul. Namun, sinyal ponsel langsung error. Tak ada jalan lain lagi, saya pun berusaha mencari bus ke Pariaman dan mencari tahu apakah mereka selamat atau tidak. Dari Padang ke Pariaman yang berjarak 25 kilometer ditempuh tiga jam. Padahal biasanya Cuma satu setengah jam.

Sepanjang perjalanan petir terus menyambar dan hujan jatuh begitu deras seakan ikut menangis, melihat penderitaan bumi minang yang porak-poranda. Sepanjang perjalanan saya melihat banyak sekali rumah yang ambruk. Sebagian besar bangunan di kota Padang rata dengan tanah, termasuk beberapa hotel dan bangunan pemerintah.

Tokoh tempat saya berbelanja beberapa menit sebelumnya juga ikut ambruk. Kabarnya beberapa orang tewas ditempat itu. Saat melintas di kawasan pertokoan yang hancur, saya melihat langsung jenazah yang dievakuasi dari reruntuhan atau yang luka parah.
Melihat semua itu, adik saya terus menangis, mengkhawatirkan orangtua kami ikut terkubur bersama rumah kami di Pariaman.

Bus yang kami tumpangi tak bisa segera sampai di Pariaman, sopir bus jurusan Padang-Pariaman harus mencari jalur alternatif, karena jembatan di Lubuk Alung yang menjadi penghubung Padang dengan Pariaman tak bisa dilalui karena mengalami pergeseran yang cukup parah.

Saat sampai di Pariaman, kota itu serasa menjadi kota mati. Semua gelap karena aliran listrik langsung terhenti sesaat setelah gempa. Di tengah kegelapan itu saya mencari kendaraan menuju kampung kami Nagari Kampung Dalam, 20 Km dari Kota Pariaman. Saat sampai disana, 90 persen rumah dan bangunan sudah rata dengan tanah. Beruntung keluarga besar kami semuanya selamat, meskipun rumah kami ikut hancur.

”Tak ada lagi yang tersisa. Ini benar-benar cobaan. Tapi kita tak boleh putus asa, semua pasti ada hikmahnya,” ungkap Siti Sayang, bibi saya.
Ketika meninggalkan kampung halaman, Kamis (1/10) siang, saudara-saudara saya masih berusaha mengais-ngais barang yang bisa diselamatkan dari tumpukan reruntuhan. Untuk sementara, keluarga besar kami tinggal di tenda-tenda darurat. Di kampung itu cukup banyak warga yang tewas dan terjepit di antara puing-puing bangunan.SUrya.co.id

Iklan
  1. semoga yg masih hidup diberi kemudahan, ketabahan, dan kesabaran.

    semoga yg meninggal, diberi kemudahan di dalam kubur-nya.

    silahkan ke blog saya richocean Richocean tentang
    2009 3009 ANGKA Gempa PADANG PARIAMAN. 2009 1010 ANGKA Gempa Tsunami ACEH?
    2009 0110 Pagi ini Gempa Bengkulu dan Jambi Menyusul Gempa Padang
    Selama 17 jam, 3x Gempa PADANG Sumatra Barat
    Gempa Sumatra Barat Tiap Bulan 666 Gempa 40 Tahun

    atau blog saya lainnya
    Richmountain

    salam …

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: