Ada Apa Dibalik Diskon


Cuci Gudang “Trik” Kejar Target Penjualan

ImageJelang akhir tahun, nyaris seluruh pusat perbelanjaan, pertokoan dan mall melancarkan program diskon gede-gedean plus ‘cuci gudang’. Ada apa sebenarnya dibalik kedua hal itu?  diskon (potongan harga) maupun cuci gudang yang ditawarkan para pengelola pusat perbelanjaan, mall, pertokoan sudah tidak asing lagi bagi para konsumen. Besaran yang diberikan  bervariasi, mulai dari 20, 50, hingga 50+20 Persen.

Tak sedikit pula yang langsung menuliskan diskon 70 persen.Seperti di Carrefour Palembang Square (PS) Palembang. Dalam rangka Natal 2008 saja, mereka memberikan diskon hingga 40 persen untuk beberapa item produk. Salah satunya, produk CF aksesoris BBQ arang (tempatpemanggangan daging) dan 30 persen peralatan masak. Lalu diskon 50-70 persen untuk pohon natal dan berbagai aksesoris dan ornamen natal lainnya.”Kami juga menawarkan item special price yang harganya turun jauh,” kata Nur Fitri Mufti, Costumer Service Coordinator (CS) Carrefour.

Untuk akhir tahun, ada produk Carrefour private label ke produk gebyar Carrefour. Setiap customer yang membeli produk Carrefour minimal Rp100 ribu atau kelipatannya, akan mendapatkan satu kupon undian.”Program ini akan diundi 6 Januari dan hadiahnya seperti LCD, audio video dan lain sebagainya,” bebernya.

Sementara bagi pengguna Kartu Carrefour BCA (KCB), juga mendapatkan diskon langsung 10 persen plus cicilan bunga 0 persen dan tanpa uang muka sepanjang 17-30 Desember. Ini berlaku untuk pembelian Rp500 ribu ke atas khusus berbagai produk elektronik. “Tiap belanja Rp500 ribu atau kelipatannya akan mendapatkan satu kupon undian Toyota Yaris. Rencana akan diundi 16 Mei mendatang,” cetus Nur Fitri.

Berbagai program yang ditawarkan untuk memberikan daya tarik kepada konsumen. Pasalnya, menurut Nur Fitri, krisis keuangan global ternyata membawa pengaruh pada jumlah pengunjung. Konsumen lebih mementingkan bagaimana caranya memenuhi kebutuhan primer khususnya sembako dan mengurangi kebutuhan primer lain apalagi kebutuhan sekunder seperti peralatan elektronik.

“Makanya, kita geber diskon untuk barang-barang elektronik. Adapula cuci gudang akhir tahun dengan harga ‘menantang’,” jelas Nur Fitri. Dikatakannya, produk-produk cuci gudang bukanlah produk rusak yang dijual kepada konsumen. Produk tersebut masih dalam kondisi bagus. “Hanya saja, produk-produk itu old fashion. Bukan lagi produk yang sedang in (diminati, red) saat ini,” bebernya.

Diskon gede-gedean dan cuci gudang itu bertujuan untuk menarik minat masyarakat untuk melirik dan membeli barang-barang sekunder, bukan hanya kebutuhan primer. Meski ada penuntunan pengunjung, namun Nur Fitri mengatakan hal itu tidak terlalu berdampak riskan pada target penjualan Carrefour sendiri. “Alhamdulillah, target penjualan kita telah tercapai. Untuk 2009, mungkin akan ada diskon gede-gedean barang kebutuhan pokok (sembako),” tukasnya.

Pusat perbelanjaan lain di metropolis yaitu hypermart juga menggelar diskon gede-gedean. Di akhir pekan ini, tepatnya periode 26-29 Desember, Hypermart memberikan penawaran menarik empat produk. Yakni, buah, sayur, daging sapi dan ayam dengan diskon 30 persen. Itu jika konsumen membayar menggunakan Matahari Club Card (MCC) atau Kartu Hypermart. Sedangkan dengan jenis kartu kredit dan debit lain mendapatkan diskon 20 persen.

Potongan harga juga diberlakukan pusat perbelanjaan yang berlokasi dilower ground Palembang Indah Mall (PIM) itu. Bahkan hingga 50 persen untuk semua produk outdoor equipment dan koper. Ada juga 25 persen untuk produk Sharp dan 31 persen semua produk LG. Intinya,  sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Di samping promo tersebut, Hypermart juga memberikan bonus pulsa Indosat setiap hari, hingga 31 Desember. Nominalnya, 20 persen untuk Senin hingga Rabu dan 10 persen Kamis hingga Minggu. Kemudian 0 persen cicilan 6 dan 12 bulan untuk Power Buy Mandiri. Hal yang sama juga terlihat di pusat perbelanjaan, mall dan pertokoan lain di metropolis.  Ternyata hypermart tak hanya menggelar promo itu saja. Menurut MOD hypermart Riri Fajarina digeber pula promo spesial akhir tahun mulai 25 Desember hingga 6 Januari mendatang.

“Yang dipromokan adalah produk-produk yang paling diburu untuk kebutuhan menjelang pergantian akhir tahun,”ujarnya. Puluhan bahkan ratusan tulisan diskon dan promo cuci gudang tampak di beberapa mall lain di metropolis. Sebut saja di Ramayana, International Plaza dan Palembang Trade Center (PTC). Konsumen rupanya mempunyai pendapat beragam tentang promo diskon gede-gedean dan cuci gudang berbagai produk tersebut.

“Mana ada penjual mau rugi. Sebelum diberi diskon besar sudah tentu harga barangnya dinaikkan dulu,” ungkap Adi, salah seorang pengunjung salah satu pusat pertokoan di Palembang. Di tempat lain, Desi, seorang ibu rumah tangga mengatakan, produk-produk yang ditawarkan dengan diskon besar kualitasnya tidak terjamin. “Mungkin kualitasnya jelek, makanya ditawarkan kepada pembeli dengan diskon besar seperti itu,”tukasnya. (46)

Nambah Pundi, atau Tutupi Kerugian

PENGAMAT ekonomi, Yan Sulistyo mengatakan, sudah menjadi kebiasaan tiap akhir tahun ada diskon besar-besaran maupun cuci gudang dari pusat perbelanjaan, pertokoan maupun mall. Hal itu dimaksudkan untuk menghabiskan stok lama dan membuat kembali produk baru yang lebih menarik minat masyarakat.

Latar belakang digelarnya diskon maupun cuci gudang sebenarnya ada dua. Pertama, untuk menambah keuntungan perusahaan. “Artinya, saat melakukan diskon gede-gedean, target penjualan perusahaan tersebut sudah terpenuhi,” ujar Yan.

Perusahaan tersebut kemudian menggeber diskon maupun cuci gudang dalam rangka untuk mencari keuntungan yang lebih banyak. Hal ini dilakukan pula untuk mengurangi stok produk lama yang tersimpan di gudang.

Apalagi jika gudang penyimpanan dalam posisi menyewa, tentu diskon atau cuci gudang ini bisa mengurangi beban sewa maupun cost lain yang dikeluarkan perusahaan. “Paling tidak, dengan terjualnya barang-barang itu ongkus produksi dapat berkurang. Itulah kenapa mereka berani memberikan diskon hingga 70 persen,”bebernya.

Sedang alasan kedua, diskon atau cuci gudang dimaksudkan untuk menutupi kerugian atau paling tidak meminimalisasi kerugian yang diderita perusahaan. Dalam kondisi ini biasanya, harga barang telah dinaikkan dulu 100-200 persen dari harga penjualannya, baru diberi label diskon 20 persen, 50 persen atau 70 persen. “Pada dasarnya, harga asli barang itu ya setelah dipotong diskon,” cetus Yan.

Ia menambahkan, ada kalanya barang-barang saat cuci gudang adalah produk cacat atau paling tidak kualitasnya rendah. Untuk itu, Yan memberikan dua tips kepada masyarakat selaku konsumen. Pertama, cek dulu kualitas barang sebelum membeli. “Yang kedua, lakukan perbandingan baik harga maupun bahan barang tersebut ke beberapa toko, mall atau pusat perbelanjaan,”pungkasnya. (46)

Framing

Framing sangat erat kaitannya dengan titik referensi, yaitu sebuah titik yang dijadikan patokan dalam sebuah perbandingan. Logikanya, sesuatu akan terlihat lebih rendah ketika berada di bawah titik referensi. Begitu juga sebaliknya, dapat terlihat sangat tinggi bila berada di atas titik referensi. Dalam framing, titik referensi ini menjadi ‘bingkai’ seseorang dalam mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan. Kemungkinan-kemungkinan yang telah ter-framing tersebutlah yang kemudian dievaluasi oleh sang pemilih.

Salah satu contoh adalah kebijakan ‘mencoret harga awal’ yang dilakukan oleh para retail tersebut. Pada awalnya mereka menuliskan dengan bombastis berapa harga awal, yang seringkali jauh lebih mahal, misalnya Rp. 2 juta. Angka yang besar itu secara otomatis menjadi titik referensi kita karena informasi tersebut kita dapatkan terlebih dahulu. Kemudian, para retail tersebut ‘mencoret harga awal’ tersebut dan memberikan angka Rp. 500.000 di bawahnya. Tidak lupa dengan menambahkan kata-kata semacam “turun harga!” atau “Diskon besar-besaran!” atau mungkin kata-kata ‘ajaib’lainnya.

Karena kita awalnya memandang angka Rp. 2 juta sebagai patokan, harga Rp. 500.000 yang berada di bawahnya akan terlihat jauh lebih murah. Yang diharapkan, tentu saja, kita menjadi lebih ‘welcome’ pada harga tersebut (Rp. 500.000) dan memandang biaya tersebut sebagai ‘biaya yang murah’.

Selisih antara titik referensi, yaitu Rp. 2 juta dengan harga yang dibayar, yaitu Rp. 500.000, akan terlihat sebagai keuntungan bagi pembeli. Mereka akan merasa membayar (jauh) lebih murah bila dibandingkan dengan apa yang bisa mereka dapatkan. Hal ini tentu saja membuat mereka, setidaknya beberapa dari mereka, mulai menyadari keuntungan yang mereka peroleh. Perasaan ‘untung’ itulah yang dikejar para retail untuk meningkatkan keinginan konsumen membeli barang yang dimaksud.

Dalam framing pemakaian bahasa pun bisa menjadi hal yang sangat penting. Dengan menggunakan bahasa yang mengedepankan sisi positif, seseorang akan memandang informasi tersebut sebagai informasi yang menguntungkan. Misal pemakaian kata “80% lulusan terserap menjadi tenaga kerja” lebih dipilih menjadi tagline sebuah universitas swasta daripada “20% lulusan menjadi pengangguran”, meskipun memiliki arti yang sama.

Bagi produsen, framing mungkin salah satu cara untuk menjaring ketertarikan sebanyak-banyaknya tanpa bermaksud membohongi para konsumen. Mereka menyampaikan kebenaran meskipun dibungkus sedemikian rupa dengan bingkai yang cantik. Tentu saja tidak ada yang salah dengan hal itu. Konsumen pun tidak dapat dikatakan merugi. Mereka merasa untung dengan melihat adanya selisih dari titik referensi dengan harga yang mereka bayar.

Namun, patut diperhatikan bagi konsumen, bahwa titik referensi yang dipatok produsen terkadang terlalu tinggi atau terlalu rendah. Mereka melebih-lebihkan harga patokan agar konsumen merasa, sekali lagi hanya MERASA, untung banyak. Padahal bisa jadi, hanya untung sedikit atau bahkan rugi sama sekali. Kalau sudah begini, maka mata konsumenlah yang mesti jeli melihat peluang untung atau buntung dalam fenomena framing.

Konsumen Harus Cerdas

Sasaran dari promo diskon maupun cuci gudang tak lain dari berupaya menarik minat masyarakat selaku konsumen. Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sumsel, RM Taufik Husni mengatakan, diskon dan cuci gudang merupakan strategi managemen pertokoan, mall maupun pusat perbelanjaan untuk memikat konsumen agar belanja.

Dijelaskan Taufik, secara tidak langsung baik promo diskon ataupun cuci gudang telah melanggar pasal 18 klausal baku pada UU No 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. “Pada pasal itu disebutkan, tidak boleh memberikan iming-iming atau janji yang tidak pasti. Nah, ini berkaitan dengan kualitas barang yang didiskon atau pada cuci gudang,”ungkapnya.

Termasuklah cuci gudang dengan angka potongan harga hingga 70 persen. Fenomena ini sudah terjadi di mana-mana dan di banyak tempat. “Jadi, barang yang sebenarnya seharga Rp100 ribu kemudian dinaikkan jadi Rp200 ribu lalu didiskon hingga 70 persen. Artinya, pembeli sudah dibodohi, perusahaan itu masih untung. Harga barangnya bukan dikurangi malah naik,”beber Taufik.

Sikap YLKI itu terlepas dari upaya pusat perbelanjaan, toko atau mall untuk mencari keuntungan. Ia menghimbau para pelaku usaha untuk tidak melakukan promosi yang berlebihan serta membohongi konsumen. “Kepada konsumen juga harus cerdas. Pikirkan masak-masak sebelum membeli, mana yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang belum dibutuhkan. Jika ada yang merasa dirugikan, silakan lapor kepada YLKI. Kita akan tindaklanjuti,”pungkas Taufik. (46)

sumber : Sumateraexpress

Iklan
    • jomblo ati
    • Oktober 2nd, 2009

    ealaaaah… gitu toh

    • THE ROCK
    • Oktober 4th, 2009

    Artikel/tulisan ygt menyesatkan !

    Itu cuma tulisan orang yg jarang belanja di Mall aja..
    Sebaiknya rajin belanja, biar bisa tau benar diskon apa bohongan..

    Justru saya selalu menunggu saat diskon..
    Karena saya sudah tahu harga yg sebenarnya..
    Dan tidak pernah merasa ditipu !

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: