Arsip untuk Agustus 22nd, 2009

Misteri Holadeira – makhluk misterius dari Amazon

Amazon adalah salah satu tempat paling misterius di dunia. Hutan lebat, sungai yang dalam dan panjang, makhluk-makhluk buas yang tidak terbayangkan. Adakah monster yang belum pernah diketahui muncul dari wilayah ini ? Mungkin ini salah satunya, monster aneh yang sering disebut Nessie dari Amazon.

Seorang pemancing ternama bernama Jeremy Wade dua kali menjumpai makhluk misterius yang dikenal dengan nama Holadeira ketika ia sedang mencari lumba-lumba merah jambu dari Amazon (Inia Geoffriensis). Pertama kali ia melihat makhluk itu adalah pada tahun 1993. Saat itu ia melihat sebuah bentuk badan yang bergerigi muncul diatas permukaan air sekitar 100 kaki dari perahunya.


Wade yang penasaran menanyai para penduduk lokal yang tinggal di dekat sungai mengenai makhluk itu. Herannya, tidak ada seorangpun yang mengetahui ada makhluk seperti yang dideskripsikan olehnya.

Wade lalu kembali ke Inggris beberapa minggu kemudian dan membawa foto-foto hasil jepretannya untuk diproses. Salah satu foto yang dibawanya ternyata memang menangkap sosok makhluk aneh itu. Apabila dilihat dari warna dan gerakan makhluk misterius itu, maka para peneliti percaya bahwa makhluk itu adalah lumba-lumba merah jambu Amazon. Namun mereka juga tidak tahu bagaimana hewan itu bisa memiliki bentuk sirip atas seperti itu. Jadi, Wade kembali ke Amazon tahun berikutnya untuk mencari tahu.

Di Amazon, Wade bertemu dengan seorang penduduk lokal yang mengaku bahwa ia melihat makhluk itu dua minggu sebelumnya di sungai. Ia menyebutnya “Holadeira“, yang artinya “gergaji“. Dari situlah asal nama Holadeira yang digunakan Wade. Ternyata tidak butuh waktu lama bagi Wade untuk melihat kembali makhluk itu. Ketika ia sedang merekam sekelompok lumba-lumba yang sedang muncul ke permukaan, ia melihat Holadeira, kali ini kepalanya terlihat, dan memang makhluk tersebut ternyata seekor lumba-lumba. Namun lumba-lumba jenis apakah yang memiliki sirip seperti itu?

Teori yang paling sering diajukan adalah sirip lumba-lumba itu rusak akibat jaring nelayan atau baling-baling perahu nelayan. Kemungkinan lain adalah kelainan genetika yang diderita oleh lumba-lumba itu. Sepertinya makhluk itu bukan spesies jenis baru karena hanya satu lumba-lumba yang pernah terlihat.

Namun ada kemungkinan lain, karena Wade terbiasa melihat lumba-lumba, Wade mengasosiasikan makhluk itu dengan lumba-lumba. Padahal mungkin makhluk itu memang adalah monster jenis baru dari Amazon. Lagipula, apabila siripnya rusak akibat jaring nelayan, maka bentuk kerusakannya terlalu rapi.

http://xfile-enigma.blogspot.com/2009/08/misteri-holadeira-makhluk-misterius.html

Wah, Dokter Salah Cabut 16 Gigi

//

INILAH.COM, South Carolina – Dokter salah mencabut gigi mungkin sering terjadi. Tapi bagaimana jika yang salah dicabut sebanyak 13 gigi? Sehingga seorang pasiennya kehilangan 16 gigi atas. Walah..

Ketika Elizabeth Smith mendatangi klinik Sexton Dental Clinic di Florence pada 2006, ia hanya meminta dokter untuk mencabut tiga gigi atasnya. “Tapi seorang dokter malah mencabut 13 lainnya, sehingga total 16 gigi saya tercabut,” ujar Smith, seperti dikutip CBS, Sabtu (22/8).

Perempuan berusia 28 tahun itu pun melayangkan tuntutan ke meja hijau. Salah satu pengacaranya, Robert Ransom, mengatakan pihak mereka menuntut ganti rugi penanaman kembali gigi Smith yang diperkirakan menelan biaya US$ 80 ribu (Rp 799 juta).

Setelah kasus diproses hingga memakan waktu hampir empat tahun, Pengadilan Florence mengabulkan ganti rugi yang jumlahnya lebih berlipa ganda, yakni US$ 2 juta (Rp 19,9 triliun). Wow!

Tentu saja pihak Smith puas dengan putusan pengadilan. Namun jalan mereka tak bakal semulus yang diperkirakan. Sebab pengacara klinik, Saunders Bridges, mengatakan akan mengajukan banding. [vin]

Hantu Waria Goda Hidung Belang di Bundaran Waru

Bagi hidung belang nampaknya harus ekstra hati-hati jika hendak berburu waria yang biasa mangkal di Bundaran Waru, Surabaya. Karena tak sedikit para hidung belang yang tertipu serta lari terbirit-birit saat hendak melepas nafsu sahwatnya.

Memang, Bundaran Waru khususnya di malam Minggu banyak ditemui waria yang menjajakan diri. Mereka biasa berdiri di pinggir jalan dan memilih di tempat yang gelap di bawah Jembatan Tol Waru-Juanda yang belum operasionalnya belum diresmikan itu.

Pengalaman yang membuat bulu kuduk berdiri dialami Sani. Pria beranak 2 yang tinggal di Pepelegi Sidoarjo memang dikenal doyan banget dengan waria. Jadi mohon maklum jika setiap akhir pekan, pria yang bekerja di kawasan Rungkut Industri ini singgah di pusatnya waria.

Suatu malam, dia mengaku lupa waktu persisnya, bersama seorang kawannya mencoba mencari kepuasan bersama waria langganannya bernama Lajuba. Namun, apes bagi dia. Langganannya itu sedang dibooking penggemar waria lainnya. Dengan terpaksa dia mencoba mencari pasangan mesum pengganti Lajuba.

Dia pun pasang mata. Matanya dengan tajam memelototi satu demi satu waria yang sedang menunggu mangsa. Tiba-tiba mata dia tertuju ke seorang waria yang body dan rupanya aduhai. Si waria ini nampaknya berusaha memisahkan diri dari rekan sejawatnya. Sebab dia berada di tempat yang paling minim penerangan. Setelah jatuh hati, Sani pun berusaha merayu dan negoisasi harga. Tarif pun disepakati, Rp 20 ribu sekali main.

“Setelah itu dia jalan memasuki tengah bundaran waru yang memang sangat gelap. Saya mengikuti dia dari belakang,” kata Sani kepada detiksurabaya.com.

Sani mengaku tidak merasa ada yang aneh. Karena untuk begituan mereka biasa di tengah ilalang di tengah Bundaran Waru itu. Namun bulu kuduk Sani mulai berdiri ketika setelah beberapa meter ternyata si waria yang akan dikencaninya itu lenyap tak berbekas.

“Saya mencoba mencari, siapa tahu dia sudah rebahan. Tapi tetap saja tidak ketemu. Saat itulah saya takut, pikiran pun teringat dengan cerita-cerita misteri,” terang Sani sambil menyedot rokok Sampoerna A Mild-nya dalam-dalam.

Merasa ada yang tak beres itulah, Sani memilih lari menerobos gelapnya malam. Dengan nafas yang ngos-ngosan dia pun menceritakan kejadian ke kawannya yang menunggu di atas motor yang diparkir di tepi jalan itu.

Sani semakin kecut karena sejumlah pekerja proyek jalan tol yang tak jauh dari posisinya akhirnya juga menceritakan kejadian serupa.

“Anda adalah yang ketiga kalinya. Di sini memang sering muncul penampakan yang menyaru sebagai waria,”terangnya sambil berlalu. Hal senada juga diungkap Wahyu. Warga Pondok Jati Sidoarjo itu juga pernah mendapat cerita serupa.

“Di situ memang katanya angker. Tapi kok ya lucunya hantunya menjelma waria. Mudah-mudahan saja bisa membuat kapok para hidung belang,” kata dia saat dihubungi detiksurabaya.com

Sumber : detik surabaya

Dikubur 26 Tahun Jasad Masih Utuh

kyai abdullah

kyai abdullah

Nama Kiai Abdullah kini ramai menjadi perbincangan di Tangerang karena jasadnya yang sudah dikubur selama 26 tahun ternyata masih utuh bahkan bau wangi. Inilah kisahnya!

Tiga bak berisi air dan potongan kayu ukuran 70 cm x 30 cm telah disiapkan anak-anak almarhum KH. Abdullah. Saat itu, Minggu 2 Agustus 2009, makam Kiai Abdullah akan dipindahkan lantaran di lokasi itu terkena proyek pelebaran Jalan Benda, Batu Ceper, Tangerang, yang mengarah ke Bandara Soekarno Hatta, Jakarta.

Air yang ada di dalam bak itu rencananya akan digunakan untuk mencuci tulang belulang sebelum dipindahkan ke lokasi pemakaman yang baru. Sementara potongan kayu sengon sebanyak 9 potong diperuntukkan sebagai dinding pembatas jenazah di dalam liang lahat.

“Saya sudah beberapa kali melihat proses pemindahan kuburan di Karet Bivak, Jakarta Pusat. Persiapannya memang seperti itu,” kata Achmad Fathi, anak ketiga Kiai Abdullah.

Namun semua perlengkapan itu akhirnya tidak terpakai. Soalnya, ketika makam yang berusia 26 tahun digali, pemandangan aneh terjadi. Jasad Kiai Abdullah ternyata masih utuh. Begitu juga dengan kain kafan dan kayu penutup jenazah. Tidak ada tanda-tanda bekas gigitan rayap atau binatang tanah di kafan maupun di kayu kamper tersebut.

Sementara Mukhtar Ali, anak sulung Kiai Abdullah, yang mengangkat jenazah ayahnya dari liang lahat mengaku sempat kaget. Soalnya kondisi jenazah hampir sama seperti saat dikuburkan, 22 Oktober 1983 silam.  “Kondisi jenazah persis sama seperti saat dikubur dulu.

Hanya tubuhnya agak menyusut saja, dan rambutnya memutih” jelas Mukhtar.
Mukhtar dan keluarganya semakin kaget, jenazah juga beraroma harum yang menyerbak. Wanginya, kata Mukhtar, tidak seperti parfum-parfum yang ada di toko-toko minyak wangi. Teriakan takbir pun langsung terdengar dari orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut.

Yang juga dirasa aneh oleh keluarga, ribuan warga tiba-tiba berdatangan mengikuti prosesi pemindahan jenazah. Padahal keluarga tidak memberi pemberitahuan kepada warga maupun murid-murid Kiai Abdullah. Mereka tiba-tiba saja datang.

“Awalnya pemindahan jenazah itu hanya dilakukan keluarga. Paling hanya 20 orang. Tapi nggak tahu kenapa tiba-tiba saat jenazah digali orang-orang sudah banyak berkumpul,” ujar Mukhtar.

Saking banyaknya orang yang datang, imbuh Mukhtar, mobil dan motor pelayat yang terparkir di sisi jalan Benda, panjangnya mencapai 5 kilometer sehingga membuat kemacetan yang luar biasa di jalan tersebut.

Beberapa warga yang ditemui detikcom menuturkan, sebelum proses pemindahan jenazah, sebenarnya  tanda-tanda keanehan sudah muncul terkait rencana pemindahan makam tersebut. Sebab saat alat berat ingin menghancurkan musala dan bangunan makam, tidak bisa berfungsi. Beberapa kali alat pengeruk dari mobil beko patah ujung kukunya.

Karena kejadian itu, pihak kontraktor pelebaran jalan menunda pembongkaran yang rencananya akan dilakukan pada Januari 2009 itu. Pembongkaran baru bisa dilanjutkan awal Agustus setelah ada kesepakatan dengan keluarga. Salah satunya soal cara pembongkaran musala dan makam itu, yakni dengan hanya menggunakan palu dan linggis. Bukan pakai alat berat.

Keluarga Kiai Abdullah sebenarnya menyayangkan kalau musala itu dibongkar. Sebab musala yang telah ada sejak puluhan tahun lalu itu sangat dibutuhkan warga setempat untuk beribadah.

Musala yang berdiri di atas tanah wakaf itu sejak dibangun Kiai Abdullah tahun 1950-an sudah mengalami beberapa pemugaran dan pelebaran. Hingga menjadi semakin luas dan bangunannya menjadi permanen.

Namun pada 2007, Pemkot Tangerang ternyata punya rencana melakukan pelebaran jalan Benda, Juru Mudi, Batu Ceper, yang berada di sepanjang Sungai Cianjane. Musala dan makam itu kebetulan berada di lokasi yang akan dijadikan akses jalan sehingga terpaksa harus digusur.

Tanah yang akan digusur dihargai Rp 500 ribu per meter. Harga itu belum termasuk bangunan yang akan dibongkar. Tapi keluarga Kiai Abdullah menolak pemberian uang pengganti. Pasalnya, tanah tempat musala dan makam itu merupakan tanah wakaf yang tidak boleh  diperjualbelikan.global

video