ikutan Sunatan Masal “Burung” Komar Putus, Dokter Pusing Nyambung Kembali

Komar Terbaring di Rumah Sakit
Dokter di RS Awalbros Pekanbaru, Senin (13/7), sedang berusaha menyambung kembali penis Komaruddin (9) yang terputus saat mengikuti acara sunatan massal di Kecamatan Rengat, Indragiri Hulu, Riau. Edi Nasro, Humas RS Awalbros, mengatakan, rumah sakit sedang berusaha.
Komaruddin, Senin pekan lalu, mengikuti acara sunatan massal dan ditunggui orangtuanya. Dari 170 peserta, Komaruddin mendapat nomor terakhir. Menurut sumber di Rengat, orangtua Komaruddin minta urutan anaknya didahulukan.
Permintaan dikabulkan, dan Komaruddin mendapat nomor 70. Namun, saat itulah terjadi kecelakaan. Penis Komaruddin terpotong seluruhnya. Tentu saja peristiwa itu menggegerkan peserta sunatan massal, yang kemudian oleh panitia dihentikan, hanya sampai urutan 70. Sisanya belum disunat.
Komaruddin kemudian dibawa ke RSUD Rengat untuk mendapat perawatan. Namun, selama 4 hari dirawat di RS itu, upaya penyambungan kembali penis Komar belum berhasil. Sambungan masih terus-menerus mengeluarkan cairan, terutama jika dipergunakan untuk buang air kecil.
Tim dokter Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru, optimis kepala penis Komarudin yang terpotong akibat salah potong saat mengikuti sunatan massal akan bisa tersambung kembali. “Melihat usia pasien yang masih belia, kami bisa memastikan alat vitalnya bisa tersambung lagi. Tapi untuk menjawab apakah bisa berfungsi normal atau ereksi, itu belum bisa dipastikan,” kata Kepala Humas RS Awal Bros, Nasrul Edy, kemarin (13/7).
Menurut Nasrul Edy, bocah malang tersebut dirujuk dari RSUD Rengat di Kabupaten Inhu. Ia mengatakan, korban sempat menjalani pengobatan berupa penjahitan bagian organ vitalnya yang putus di RSUD tersebut, tetapi hasilnya tidak optimal.
“Saat dibawa ke rumah sakit ini (Awal Bros) pada hari Minggu (12/7), kondisinya sudah parah, karena air kencing dan darah terus keluar dari lukanya,” kata Nasrul. Akibatnya, Kamarudin terpaksa menjalani kembali operasi penyambungan di RS Awal Bros.
Ketua Bidang Litbang BK3S Riau, Hendro Ekuarso, membenarkan insiden di khitanan massal dan menyampaikan turut menyesalkan kejadian ini. Ia juga membenarkan alat yang digunakan adalah pisau laser, dan kejadian tersebut murni kesalahan manusia (human error).
Ia mengatakan, seluruh biaya pengobatan bocah malang itu ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten Inhu. Pemerintah setempat juga telah membiayai ongkos transportasi ibu si anak yang selama ini tinggal di Sulawesi Selatan.
“Mengenai sanksi kepada dokter yang melakukan kelalaian, saya tidak tahu,” katanya.
Akibat kecelakaan itu, Kamarudin kini terpaksa menggunakan selang untuk buang air kecil. Sampai sekarang kemaluannya masih dibalut dengan perban, dan sebuah tudung saji kecil diletakkan di atasnya agar selimut tidak menyentuh luka yang belum kering.(jpnn)

















kasiyan dia
ih ngeri ah
KOk jadi dokter teledor ya?? mentang2 sunatan masal…nolongnya semaunya…..ceroboh… ckckckc…