Kisah Ibu Sumini Penderita Kanker Kulit
Bagian Wajah Sumini Rusak Satu per Satu
Ibu sumini & Suami
Kanker kulit yang diderita Sumini (63) mengundang perhatian dan keharuan dari berbagai pihak. Sumini yang kehilangan hampir seluruh wajahnya akibat digerogoti basalomia itu, kemarin dikunjungi para pejabat dari Pemkab Madiun dan DPRD setempat serta warga masyarakat yang bersimpati.
Kendati uluran bantuan berdatangan, warga RT 08 RW 03, Dusun Punden, Desa Nglanduk, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, itu tidak bisa memenuhi tawaran untuk berobat ke rumah sakit (RS).
Sumini mengaku pasrah menghadapi penyakit yang telah dideritanya sejak 34 tahun lalu itu—yang awalnya hanya berupa sebuah bintil kecil di hidungnya. Sumini tidak tahu apakah penyakitnya itu bisa disembuhkan atau tidak, tetapi jika harus jauh meninggalkan rumah untuk berobat, ia menolak.
“Saya enggak usah dibawa ke mana-mana. Saya sudah pasrah menerima (sakit) ini. Saya mau diobati asalkan tidak meninggalkan rumah. Saya ingin akhir hayat saya ya… di rumah ini,” kata Sumini, yang akrab dipanggil Mbok Mini, kepada orang-orang yang mengunjunginya.
Menurut Marto, selama bertahun-tahun penyakit tersebut terus menggerogoti wajah istrinya. Satu per satu bagian wajah Sumini rusak. Karena tidak ada mata, maka ia tidak dapat melihat. Demikian juga, dia tidak dapat berbicara dengan normal karena bibir dan mulutnya sudah tidak sempurna. (Sudarmawan, D. Rekohadi)
Sumini Makan Mi Instan yang Mudah Diseruput
Hanya karena keajaiban Tuhan, Sumini masih bisa bertahan. Padahal, jaringan hidung untuk bernapasnya sudah tidak sempurna akibat penyakit tersebut. Bahkan, kesadaran dan indera pendengaran Sumini juga masih bagus.
Sumini (63), warga RT 08 RW 03, Dusun Punden, Desa Nglanduk, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, sudah puluhan tahun diserang kanker kulit di wajahnya. Akibatnya, wajah Sumini nyaris hilang.
Dengan mulutnya yang sudah tidak sempurna untuk mengunyah, sehari-hari Sumini lebih banyak mengonsumsi makanan halus seperti bubur. Jika terpaksa makan nasi, maka nasi tersebut dicampur air cukup banyak sehingga gampang masuk ke tenggorokan.
“Dia juga kerap makan mi instan berkuah karena diseruput saja sudah langsung masuk tenggorokan,” kata Martomini, suami Sumini yang setia mendampinginya. (Sudarmawan, D. Rekohadi)
Kecil Kemungkinan Wajah Sumini Dikembalikan
Kepala Seksi Kesehatan Khusus dan Rujukan Dinas Kesehatan Pemkab Madiun dr Ary Andarwati mengatakan bahwa Tumini menderita kanker basalioma yang sudah berada pada stadium lanjut sehingga destruktif. Tidak hanya dagingnya yang digerogoti, tapi juga tulangnya.
Sumini, warga RT 08 RW 03, Dusun Punden, Desa Nglanduk, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, kehilangan hampir seluruh wajahnya karena kanker kulit. Ary berpendapat, dengan lukanya yang parah dan menyebar di wajah, kemungkinannya kecil bagi Tumini untuk bisa pulih seperti sedia kala.
“Untuk menjalani operasi, perlu observasi menyeluruh dari tim ahli medis bagaimana kemungkinan itu dilakukan. Namun, karena penderita tak mau dirujuk ke RS, kami akan berusaha mengurangi penderitaannya seperti rasa nyeri, panas, ataupun serangan infeksi. Caranya dengan kontrol berlanjut,” kata Ary yang kemarin datang ke rumah Tumini.
Ahli bedah plastik, Prof dr David S Perdanakusuma, SpBP, menyatakan, untuk penanganan kasus yang dialami Tumini lebih dulu harus dipastikan jenis penyakitnya. Menurutnya, kondisi yang dialami Tumini bisa terjadi karena kanker.
“Bisa sampai seperti itu biasanya terjadi secara bertahap, dan itu bisa disebabkan oleh keganasan kulit yang bersifat lokal,” ujarnya. Untuk keganasan yang bersifat lokal (local malignance) atau basalioma di wajah, penyebarannya bisa menggerogoti bagian wajah, mulai dari kulit, tulang, hingga mata dan hidung. “Namun, belum tentu seperti itu penyakitnya, bisa juga keganasan yang daya menjalarnya lebih kuat,” tutur David.
Karena itu, untuk penanganan kondisi yang dialami Tumini, setidaknya diperlukan tiga langkah utama. Diawali dengan penegakan diagnosis. Langkah pertama adalah oleh tim dokter dari berbagai displin spesialisasi, seperti dari bidang onkologi, syaraf, hingga dokter bedah plastik.
Jika sudah dipastikan penyakit yang dialami, langkah selanjutnya melakukan inventarisasi dan pemeriksaan jaringan tubuh. ”Perlu diketahui jaringan tubuh mana saja yang telah diserang dan rusak,” ujar dokter yang menangani operasi rekonstruksi wajah Lisa itu.
Sementara itu, langkah ketiga adalah upaya penanganan yang diawali dengan memastikan jaringan-jaringan tubuh yang bisa diselamatkan. “Di bagian ini kami bisa terlibat langsung untuk melakukan rekonstruksi setelah mengenali dulu organ-organ yang bisa direkonstruksi,” tutur David.
Sementara itu, Wakil Direktur Pelayanan Medik RS dr Soetomo, dr Urip Moertedjo, SpBKL, menyatakan, pihaknya siap membantu Tumini untuk menjalani perawatan medis. “Kami pasti membantu jika bisa diupayakan datang ke sini (RS dr Soetomo). Kami akan menyiapkan tim untuk menangani,” ujarnya.
sumber : Bangkapos.com
“Semoga Ibu sumini diberikan ketabahan dan diberikan kesembuhan… Amin “
Sepasang kekasih yang berbeda agama dilaporkan telah melakukan aksi bunuh diri setelah panchayat (dewan desa) memerintahkan mereka untuk berpisah atau menghadapi kematian.

Lokesh sering beli susu di rumah Amreen. Namun, karena pernikahan mereka dilarang, akhirnya keduanya mengakhiri hidup dengan menenggak racun. Pihak berwenang memiliki undang-undang namun para penduduk desa mempertahankan tradisi lama dan mereka akan tetap mempertahankannya.GLOBAL
Konon, gay atau tidaknya seorang pria bisa diintip dari bentuk jari tangannya. Cuma mitos? Ternyata tidak, ada riset ilmiahnya.
Tak gendong kemana-mana
FREETOWN | SURYA.CO.ID — Program beasiswa untuk para gadis asal mereka lulus uji keperawanan bikin gempar Sierra Leone, Afrika barat daya. Program ini bertujuan mengurangi begitu banyaknya remaja hamil.
MADIUN, bangkapos.com- Sumini, pengidap kanker kulit asal Madiun Jatim itu sering menangis. “Bahkan beberapa kali putus asa dan ingin mati karena sakit yang dialaminya,” kata Wasirendra (32), anak tunggal Sumini.




LOS ANGELES — Chris John, juara dunia tinju kelas bulu versi WBA, urung menjalani tanding ulang melawan petinju AS, Rocky Juarez, pada 27 Juli mendatang. Seperti dilaporkan situs ESPN, Senin, Chris menarik diri karena mengalami masalah darah.
Museum Sejarah Nasional Darwin Centre London memamerkan seekor cumi-cumi raksasa yang terbesar dan terutuh di dunia pada Maret lalu, cumi-cumi (squid) raksasa itu terjaring oleh nelayan di sekitar perairan Kepulauan Falkland (Pulau Malvinas).















