Dijodohkan, Orang Tua Lihat Luluk Tak Menolak
Menjelang sepekan kematian Luluk Firotul Azizah, 16, masih menyisakan duka mendalam bagi keluarganya. Pasalnya, Luluk ternyata dalam waktu dekat akan dinikahkan.
DONNY ASMORO, Jombang
LIMA hari setelah peristiwa bunuh diri yang dilakukan Luluk, suasana Dusun Bantengan, Desa Tanjunggunung, Kecamatan Peterongan, mulai lengang seperti sediakala. Begitu pula di rumah keluarga Luluk yang sederhana. Sabtu siang, Zubaidah, 35, ibunda Luluk, nampak duduk di teras depan bersama suaminya, Kasmu’i, 40, dan adik lelaki Luluk yang masih duduk di kelas II SD.
Meski wajah mereka masih diliputi duka mendalam, namun keluarga ini terkesan ramah saat didatangi Darmo. ”Kabar kami Alhamdulilah baik-baik saja,” ungkap Zubaidah sembari memangku putra bungsunya, yang kini jadi anak semata wayang.
Baik Zubaidah maupun Kasmui tentu masih terpukul dengan kematian Luluk. Apalagi, gadis ini diketahui meninggal setelah menenggak racun yang diduga thinner atau insektisida. Baik Zubaidah maupun Kasmu’i mengaku benar-benar tidak menyangka, jika putri sulung mereka akan berbuat senekat itu.
Apalagi bagi Zubaidah, yang kesehariannya tinggal dengan Luluk. Meski bekerja dari pagi hingga sore, Zubaidah selalu bertemu dengan Luluk pada malam hari, atau pagi sebelum berangkat kerja.
Pada hari terakhir sebelum kejadian pun, Luluk tidak menunjukkan gelagat yang aneh. Dia tetap ceria seperti biasanya. ”Bahkan sebelum saya berangkat, hari itu, dia malah sempat bercanda-canda sambil memeluk saya,” kenang Zubaidah berusaha tegar.
Tapi ada yang menarik dibalik kematian Luluk. Gadis ini ternyata sedang “dijodohkan” dengan salah seorang pemuda, yang dikabarkan tinggal di Desa Dapurkejambon, Kecamatan Jombang. Entah sengaja menutupi atau memang tidak ingat, baik Zubaidah dan Kasmu’i mengaku lupa dengan nama orang tua yang pernah mengunjungi mereka untuk silaturahim sekaligus “meminta” Luluk.
Hanya saja, Zubaidah menyebut nama pemuda itu Yudi. Siapa nama lengkapnya, Zubaidah juga mengaku lupa. Dia menegaskan, rencana pernikahan itu memang sudah ada dalam waktu dekat. Hanya saja, karena latar belakang ekonomi yang kurang mampu, Kasmu’i harus bekerja merantau ke luar pulau dulu, untuk mencari tambahan biaya pernikahan putrinya.
”Bagaimana lagi, keadaan kami memang begini. Kalau akan punya gawe, tentu kami harus cari uang dulu. Tidak bisa seketika dilakukan,” ujar Kasmu’i.
Apakah rencana perjodohan ini menjadi salah satu faktor penyebab aksi nekat Luluk? Zubaidah dan Kasmu’i buru-buru membantahnya. Menurut mereka, Luluk tidak pernah sekalipun menentang rencana perjodohan ini. Ia selalu nampak baik-baik saja.
Bahkan beberapa hari menjelang peristiwa memilukan ini, Luluk nampak bercengkerama berdua di teras rumahnya, bersama calon pendampingnya. Mereka berdua nampak bahagia. Hal ini juga dibenarkan oleh Bambang, salah satu tetangga Luluk.
”Iya memang. Saya lihat sendiri mereka berdua duduk-duduk di teras. Mereka nampak senang dan tidak ada masalah,” ujarnya saat ikut menemui Darmo di rumah Zubaidah.
Koran ini berusaha mencari keberadaan pemuda bernama Yudi itu, di Desa Dapurkejambon. Sayangnya, penelusuran ini belum membuahkan hasil. Karena nama kedua orang tua Yudi masih belum diketahui.
Yang jelas, Zubaidah dan Kasmu’i mengaku sudah mengikhlaskan kepergian Luluk. Karena menurut mereka, itu sudah menjadi takdir Tuhan. Meski gadis itu pergi dengan cara yang cukup tragis. ”Kami sudah ikhlas. Kini kami hanya fokus untuk membesarkan adik Luluk dengan sebaik baiknya,” pungkasnya. (yr)radarmojokerto.co.id
DIarsipkan di bawah: Tak Berkategori | Ditandai: bunuh diri, Lokal

















[...] Read more here: Yang Tersisa dari Aksi Nekat Luluk, Gadis 16 Tahun yang Bunuh Diri [...]
gk pentink bgt se?ego pecel kan sek enak?lapo atek ngono2an brank?plesedeh
dalam hati si luluk sangatlah dalam,
dan tidak setuju di jodohkan,
luluk cuma ingin melihat kedua orang tuanya senang,
dia ingin keluar dari kehidupanya,
dan ingin bebas mendapatkan apa yang ia inginkan,
tpi dia melakukan dengan cara yang salah(bunuh diri)
dan bunuh diri pengaruh dari tv(90%),inisiatif(10%).
analisa yang mantab
90% je
pengalaman nih
semoga Dia Ditrima DI SISI-Nya, Serta Keluarga DIBeri Ketabahan Amin
untuk Panji dan Wahyu …
Bunuh diri itu salah, iya benar!
tapi kayaknya analisa-nya tentang prosentasi itu berdasarkan apa ya?
biasanya yg melakukan bunuh diri itu bukan karena pengaruh tv atau pengaruh siapapun.
korban merasa sangat tidak mampu selesaikan masalahnya.
korban merasa sangat bersendiri, karena dia tak mampu berbagi. umumnya mereka pendiam.
sayangnya masih banyak kerabat terdekat, kurang menyadari apa yang sedang terjadi sebenarnya.
sementara tanda2 tsb, pastinya sempat di-sirat-kan.
apapun itu …
salam kenal buat semuanya
salam kenal juga dengan pemilik blog ini.