Ironis, Di Banten Tragedi Di Bali Ciuman Masal


SEHARI setelah Nyepi, muda-mudi Denpasar bakal bergembira. Hari itu identik dengan ritual omed-omedan (tarik-tarikan) di Sesetan, Denpasar.


Ritual ini sangat menarik karena dibumbui dengan adegan ciuman massal antara wanita dan laki-laki yang diakhiri dengan siraman air.

Ritual ini wajib diikuti oleh para muda-mudi Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar yang digelar di jalan raya, Sesetan, kemarin (27/3). Sekitar 200 muda-mudi warga banjar ini turut serta dalam ritual yang telah berlangsung ratusan tahun. Sebelum omed-medan, para peserta bersembahyang di areal Balai Banjar memohon ritual ini berjalan lancar.

Sedangkan untuk mengantisipasi membludaknya ratusan penonton, ritual ini dijaga pecalang dan polisi. Tampak wisatawan asing berdesakan menyaksikan ritual unik ini. “Saya pernah menonton tapi tetap ingin menyaksikannya karena ini unik,” ujar Stephanie, wisatawan Australia.

Ritual ini digelar dengan aturan, perserta pria berbaris di hadapan kelompok wanita. Begitu aba-aba dimulai, kedua kelompok ini merangsek ke depan.

Mereka pun terlibat adegan tarik-menarik. Tak lama kemudian, wakil terdepan dari kedua kelompok ini berciuman ditengah sorak-sorai penonton.

Adegan memagut bibir ini berkesudahan setelah mereka disiram air oleh panitia. Adegan tersebut berlangsung berulangkali hingga semua peserta mendapatkan bagian.

“Tadinya malu, tapi sekarang senang,” ujar Ketut Wianti. Omed-omedan pun menjadi ajang mencari jodoh para pemuda desa. Banyak pasangan di banjar ini yang menikah setelah terlibat omed-omedan. Ketua Panitia omed-omedan Gede Anindya Perdana Putra mengatakan ritual ini telah berlangsung turun temurun selama ratusan tahun. Adengan ciuman pada ritual ini sebagai simbol menjalin keakraban dan silaturahmi. (posmetro-medan.com)

via : karodalnet.blogspot.com

About these ads
    • surya
    • Maret 28th, 2009

    hwahahaha….
    tmen 1 geng ku nie yang cowox…..

  1. weleh-weleh ada aja bung, ternyata budaya barat dan jadi tradisi kita yee. baru tau nih..

    • ARDI
    • Maret 28th, 2009

    KOREKSI….

    Ritual omed-omedan berlangsung sejak lama dan ini merupakan RITUAL ASLI Masyarakat Bali, Bukan Ritualnya Orang Barat yang diadopsi orang Bali. dan biasanya ritual ini diadakan setelah Nyepi. Bahkan pada saat zaman kolonialisme Belanda, ritual ini sempat DILARANG oleh pemerintah kolonial Belanda karena dianggap tidak senonoh.
    DAN BUKAN suatu ke-ironisan apabila dibandingkan dengan Tragedi Situ Gintung KARENA memang tradisi ini setiap tahun diadakan di Bali setelah NYEPI.

    Terima Kasih.

    • Abah Rendahhati
    • Maret 29th, 2009

    TRADISI INI AKAN TERUS BEKEMBANG DAN DI PERMODERN DAN 100 TAHUN LAGI TRADISI INI TIDAK LAGI HANYA CIUMAN MASSAL TAPI SUDAH LEBIH MAJU LAGI MENJADI PESTA SEX MASSAL, TERUSKAN SAJA, BANGSA INI SUDAH KEPALANG RUSAK, MARI KITA JADI BINATANG SAJA SEKALIAN !!!!!

  2. ARDI berkata
    Maret 28, 2009 pada 8:34 pm
    KOREKSI….

    Ritual omed-omedan berlangsung sejak lama dan ini merupakan RITUAL ASLI Masyarakat Bali, Bukan Ritualnya Orang Barat yang diadopsi orang Bali. dan biasanya ritual ini diadakan setelah Nyepi. Bahkan pada saat zaman kolonialisme Belanda, ritual ini sempat DILARANG oleh pemerintah kolonial Belanda karena dianggap tidak senonoh.
    DAN BUKAN suatu ke-ironisan apabila dibandingkan dengan Tragedi Situ Gintung KARENA memang tradisi ini setiap tahun diadakan di Bali setelah NYEPI.

    Terima Kasih.

    saya setuju pendapat bung ardi,,,kita jangan “menciptakan” kekeruhan…masyarakat di bali itu kan punya adat yg memang rutin di rayain,dah ratusan tahun bro….lagian kan kalo suatu daerah terkena musibah,apa daerah lain semuanya harus menangis??? aku yakin bro…org2 bali juga bnyk yg nyumbang untuk para korban situ gintung….hidup harus jalan terus,,,contoh anda mau hajatan besok.menikah,tapi kemudian besoknya ada tetangga anda meninggal karena kecelakaan(maaf)..apa kemudian anda membatalkan pernikahan anda?

    terimakasih

    • sultan22
    • Maret 29th, 2009

    enak tenan omed-omedan ama cewek.

    • rukmana
    • Maret 29th, 2009

    blh jg tu!!!

    • Ahmad Jakalurrahman
    • Maret 29th, 2009

    Semoga Danau Batur gak jebol..ama Gunung Agungnya gak meletus….

    tapi terserah Allah kalo dirasa itu perlu

    • den fahmy
    • Maret 30th, 2009

    bener bgt tuh !! skg ciuman massal, besok seks massal !!
    menurut saya ini sangat sangat sangat tidak mendidik !!
    saya kurang setuju bahkan tidak setuju ! pemerintah kolonial belanda yang orang barat
    aja tau kalo tradisi ini kurang senonoh !!
    masa kita yg orang timur gk tau !! sekian & trims

    • atma gunawan
    • Maret 30th, 2009

    Tradisi tetaplah tradisi tapi juga harus menghormati kesopanan umum yang berlaku …

  3. Wah ini… ini… mau lanjut lagi atau gimana nih bencananya?

    http://www.bantalsehat.com

  4. Omed-omedan adalah tradisi asli Bali brow. So jangan negatif thinking dulu tentang tradisi yang satu ini. Ini tradisi yg unik n menarik n hanya berupa ciuman di wajah n di bibir, gak lebih. Kalo sexs masal sayapun tidak setuju, bahkan sama sekali tidak setuju, semua orang Bali pun saya rasa gak setuju.

    • singgasanaku
    • Maret 30th, 2009

    Menurut saya, meskipun tradisi nenek moyang, kalau tidak sesuai dengan aturan Allah ya jangan diterusin…

    • 8brother
    • Maret 30th, 2009

    dimana mana bkin dosa itu enag, klo gg enag, gg ada org yan bkin dosa..!!!

    • adieiglesias
    • Maret 30th, 2009

    MENJIJIKAN,TIDAK BERMORAL,JOROK DAN HARAM!
    TRADISI YANG BENAR -BENAR TIDAK MENDIDIK BAGI BANGSA KITA
    APAKAH TIDAK TAKUT DENGAN AZAB TUHAN!
    WASPADALAH…….WASPADALAH…..!
    SETELAH BENCANA DI SITU GINTUNG,
    LALU BERIKUTNYA,DIMANA LAGI,YAAAA…AAA…AAA….?
    ALLAH HU ALAM,HANYA TUHANLAH YANG TAHU….!

  5. Biarlah budaya itu hidup apa adanya dengan kultur orang-orang setempat. Anda tak mungkin menilai budaya omed dengan cara pandang agama tertentu yang justru tidak mereka peluk. Apakah budaya suku Asmat dan Dani yang cuma menggunakan koteka itu melanggar kaidah agama tertentu? Padahal mereka tidak memeluk agama tersebut.

    Sudahlah bung, jangan menghakimi budaya suatu masyarakat! Berkacalah apakah sikap kita lebih baik dari mereka? Barangkali sikap kita sopan, berbaju layaknya kaum agamis. Tapi, apakah hati kita juga sama sempurnanya? Apakah tingkah laku kita sama baiknya?

    Biarlah budaya itu hidup dalam kapasitas sosialnya. Kalau memang ada bencana, jangan dihubung-hubungkan dengan perilaku sosial dan budaya masyarakat. Kenapa Aceh yang terkenal agamis sebagai daerah dengan hukum agama yang ketat justru disapu bencana maha hebat?

    Tuhan itu MahaBesar dan Maha Mengetahui. Manusialah yang sering terlalu pongah dan menjustifikasi seperti Tuhan.

    Salam.

    http://budhikw.wordpress.com

    • surya
    • Maret 30th, 2009

    ARDI…
    KOBRA…
    BABE….
    mungkin sikap seperti mereka ber3 inilah yang seharusnya dimiliki oleh rekan2 yang lain,sikap yg mw menghargai setiap perbedaan budaya di indonesia….
    rekan2 yg lain hanya bisa memandang dari pikiran negativenya saja,..
    entah bgaimana prasaan anda jika anda menjadi bagian dari suatu tradisi omed2an tersebut,.
    apakah kalian akan bersikap menolak tradisi yg diwarisi oleh nenek moyang klian????
    apakah anda akan marah mendengar tradisi anda dilecehkan???
    apakah yg anda lakukan jika tradisi klian dibilang menjijikkan,tidak bermoral????
    kita dari pertama duduk dibangku sekolah selalu diajarkan untuk saling menghargai setiap perbedaan yang ad,.namun membaca koment2 yg membuat merah telinga seperti diatas saia rasa rekan2 perlu duduk lagi dibangku sekolah dasar,…
    jgn hanya dikarenakan perbedaan budaya kita menjadi pecah,.nmun jadikan perbedaan itu yg membuat kita menjadi satu!!!
    mari mulai sekarang qta hargai setiap budaya yang dimiliki oleh tiap2 daerah di Indonesia,.jgn sampai budaya2 tersebut hilang hnya dikarenakan sebuah pemikiran yang kolot dan terkesan munafik…
    mari hormati,hargai,dan jaga setiap budaya Indonesia!!!!!
    jaya Indonesia!!

    • Indonesian people
    • Maret 30th, 2009

    well…..
    kita ni bangsa yg beragam
    terdiri dari ratusan juta jiwa, n ratusan juta pemikiran
    sah-sah aja orang maw koment apa
    ini jaman demokrasi kan?
    silakan berkomentar negatif atopun positif, asalkan masih sesuai estetika dan etika
    tapi inget…dosa, salah, benar…tu smua ga obyektif
    cuman subyektif, tergantung penilaian kita sendiri
    budaya omed-omedan or cium2an gag sepantesnya kita bilang jijik or dosa
    coba pikir, ini acara adat n cuman 1 taon sekali, tanpa paksaan n cuma disaksikan oleh secuil orang
    kalo maw protes, marahin tu artis2 kita yang di pilem pada ciuman
    uda mreka ciuman dapet duit, paksaan skenario trus kita nontonnya bayar lagi
    jadi kita bayar buat liat adegan ciuman, y g?
    hehehehehe
    santai ja bro
    lanjutkan tradisi omed2an
    jaga agar tetap berada di jalur yang benar
    jgn2 yag bilang dosa or menjurus menjadi sex masal ntu malah yg otaknya isinya napsu doank n pengen orgy?
    hwo knows
    hahahahahahaha
    peace…

    • Indonesian people
    • Maret 30th, 2009

    lupa….
    emang apa hubunganya tragedi situ gintung ma omed2an y?
    cuman supaya tulisannya menarik y?
    mending tulis….
    “tragis…di banten tragedi lokalisasi jalan terus” baru bener tu

  6. whoaaaaaaw………….
    hebat ya bali mempelopori..hahahaiiiiii
    harusnya jadi pelopor yang baik2 ke jangan yang jeleknya…
    indonesia sekarang kenapa sich???
    ko aneh banget yang jelek diikutin mulu dari budaya barat.

    aneh banget tau g!!!!!!!

    • Oemar
    • Maret 31st, 2009

    ALLAAHUMMA INNII A’UUDZUBIKA MIN ‘ADZAABIL QABRI, WA MIN ‘ADZAABIN-NAAR(I), WA MIN FITNATIL-MAHYAA WAL MAMAAT(I), WA MIN FITNATIL-MASIIHID-DAJJAAL(I).

    Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, dan dari siksa neraka, dan dari malapetaka hidup dan mati, dan dari malapetaka dajjal, perusak segala kebajikan. (HR. Muslim)

    Di antara tanda-tanda kiamat ialah ilmu terangkat, kebodohan menjadi dominan, arak menjadi minuman biasa, zina dilakukan terang-terangan, wanita berlipat banyak, dan laki-laki berkurang sehingga lima puluh orang wanita berbanding seorang pria. (HR. Bukhari)

    wssalam

  7. Emang sekarang zaman udah edan, sesuatu yang haram sudah menjadi hal yang legal

    Salam
    http://www.susukambingorganik.com

    • SESETAN BERSATU
    • April 1st, 2009

    maaf, di indonesia beragam agama dan budaya, janganlah anda menghina kebudayaan kami. . kalau anda ingin mengkritik silahkan datang ke bali, dengan alamat jln. raya sesetan banjar kaja sesetan, kami akan menjawab semua kritikan yang anda berikan. . jangan anggap budaya anda yang paling suci,, jangan membawa nama tuhan dalam budaya, karena budaya kita sendri yang menciptakan tanpa bantuan dari tuhan. . jika anda ingain menghina budaya kami dan menganggap ini budaya yang porno, silahkan datang ke bali, kami akan menghadapi anda, , kita di bumi ini diciptakan dalam ketelanjangan dan dilahirkan dalam keadaan telanjang, , jika anda kurang puas silahkan hubungin kami. .

  8. kesan saya. “BETAPA MURAHNYA HARGA DIRI SEORANG WANITA”. budaya permisif ternyata sudah tumbuh subur di negara kita. “YUK TERUSKAN DENGAN LAKUKAN ZINA MASSAL DI MONAS”. BIAR ANCUR SEKALIAN NEGERI INI.

    NA’UDZUBILLAH MIN DZLIK

      • saya yaa saya
      • Mei 1st, 2009

      nama Tuhan di bawa kemana,,cerai:atas ingin Tuhan ,Nikah:atas ingin Tuhan, bangkrut:atas ingin Tuhan,Demo anarkis : bawa nama Tuhan,munafik kalian..kalian lah yang menanam itu semua,jadi kalian memetik itu semua,,

    • Obor
    • April 3rd, 2009

    Muslim abangan ya yg gini nih,slalu sj irihati n jlekin klmpok,wong bljar dr aceh n stu gnting itu pljaran dr Allah bt klian sndri,tp koq klian g tbat2 jg ya?

    • _komponen pecinta budaya INDONESIA_
    • April 19th, 2009

    bner!!!!
    ngaca ama kejadian aceh n situ gnting!!!
    gak baek bwa2 nma allah…
    suka tidak suka,.
    ini budaya,.
    jdi tolong hormati dunz….
    pikiran kolot tetep aja kolot…
    ampe kapanpun tetep kolot!!!

    kalian emang susah menghargai suatu budaya,.tpi kalian lebih gampang menjelek2an budaya!!!

    inget bhineka tunggal ika!!!!

    klo emang mengerti tentang sikap saling menghormati dan menghargai,.saya rasa kalian tdak perlu menjudge suatu budaya dari sisi negative yg kalian tonjolkan!!

    qta ini satu…
    budaya yang berbeda bukannya harus dijelekkan….
    budaya indonesia jgn sampe punah,.
    mari qta jaga semua budaya INDONESIA!!!

    jauhkan pikiran KOLOT kalian!!!
    sadar…
    eling…

    • alinn
    • Mei 20th, 2009

    walaupun kesannya buruk,,, yang penting gak terpengaruh n gak terjerumus ke hal2 yg lebih gak baek kan…

    hormatilah mereka…

    mereka ya mereka,,
    kita ya kita..
    gitu aja koq repot…

    • andika.
    • Maret 16th, 2011

    emng..yg nafsu2 itu enak…di kaitkan dengan budaya..buday itu di ciptakan oleh manusia…..cium2an itu di ciptakan oleh nenek moyang..kita yg dulu yg kurang tw agama..mkanya Agama ditrunkan untuk menangulanginyua itu,,,,bukan Agama kalah oleh adat..dsar katrok..semuA….yg maju cara berpikirnya…jgn segtu2 aja

    • hendra
    • Mei 8th, 2011

    Saya setuju dengan ANDIKA…….!!!
    Memang setan itu selalu mencari cara buat memuluskan AKSINYA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  9. Maju terus omed omedan…yang penting gak merugikan orang lain….Ini tradisi orang Bali bro khususnya saudara kami di sesetan..n ini gak merugikan orang lain… gak seperti teroris yang suka ngebom bunuh diri kok ngajak hehe…Bhinneka Tunggal Ika…Masalah dosa itu urusan Tuhan..jangan saling menghina dan mencela..mari kita intropeksi diri..Salam..Selamat Hari Kebangkitan Nasional

    • dwita
    • Maret 10th, 2012

    tradisi ya tradisi , ini tu ada sebelum adanya peraturan x ,
    emng pnh dnger indonesia jelek krna bali ?
    ngaca dunk situ , Bali itu lebih bagus dari indonesia ,,,,

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 125 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: