Veteran Perang Trauma , 27 Kali Ditabrak Motor
Dari raut wajahnya tidak ada tanda-tanda Risman adalah seorang pejuang kemerdekaan saat penjajahan Belanda. Tapi, siapa sangka jika lelaki yang kini menjadi penjual sayur keliling ini adalah bekas pejuang gerilyawan yang mengusir pasukan Belanda dari Tanah Makassar.
Siang itu di bilangan Jl Pongtiku, kendaraan bersiliweran. Tampak dari kejauhan seorang kakek dengan penuh semangat mengayuh sepedanya. Di bagian belakang sepeda terdapat dua buah keranjang besar terbuat dari bambu.
Bajunya yang berwarna merah jambu membuat Risman jelas terlihat diantara sekian banyak pejalan kaki dan kendaraan yang melintas di Jl Pongtiku.
Hanya berselang beberapa menit, suasana Jl Pongtiku tiba-tiba ramai.
Ratusan kendaraan melintas menimbulkan suara gemuruh dimana-mana. Tampak bendera salah satu partai dikibaskan ke udara oleh seorang lelaki yang dibonceng menggunakan motor.
Tak ingin tergilas dengan massa salah satu partai yang ingin melakukan kampanye, Risman menepi di sebuahwarun kecil.
Keringat yang tadi mengucur di tubuhnya kini mulai melele. Napasnya ngos-ngosan. Sesekali ia harus tarik napas dalam-dalam lalu dihembuskan kencang-kencang. Beberapa saat kemudian, ia coba mengatur napas kembali.
Risman adalah seorang penjual sayur keliling (pagandeng).
Kakek bercucu lima ini tinggal di Desa Kalukuang, kelahiran Desa Kalukuang, Kecamatan Pallangga Gowa.
Setiap pukul 05.30 Wita, lelaki yang telah berusia 75 tahun ini sudah meninggalkan rumahnya. Dua buah keranjang bambu besar diletakkan di samping kiri dan kanan sepedanya. Kedua keranjang telah berisi sayur kangkung dan daun paria.
Sayuran sebanyak dua bakul besar ini setiap hari ia bawa ke Makassar dengan sepedanya. Biasanya, Risman menjualnya ke Pasar Terong, Pasar Pannampu atau Pasar Karuwisi.
Saat penulis menemuinya ketika ia asyik menikmati istirahatnya di depan sebuah warung di Jl Pongtiku, Risman sempat menyodorkan tangannya.
Kepada penulis, suami Dg Sannang ini mengaku, dari Gowa ke Makassar biasanya memakan waktu 1 jam perjalanan. Makanya, sejak pagi buta ia harus meninggalkan rumahnya agar bisa menjajakan sayur di beberapa pasar tradisional di kota ini.
“Sayur-sayur ini saya beli dari pemilik kebun di Gowa. Banyak memang jenis sayur, tapi yang saya jual hanya kangkung dan daun paria. Selain harganya murah, sayur ini paling banyak diminati,” kata Risman sambil tersenyum.
Menurut Risman, profesi sebagai penjual sayur telah digelutinya hampir 50 tahun. Saat itu, suasana Indonesia masih belum baik setelah dijajah Belanda dan Jepang.
Setelah cukup lama berjuang di hutan melawan penjajah, lelaki yang sering disapa Tata ini memutuskan turun gunung. Apalagi, saat itu berangsur-angsur pasukan Belanda mulai meninggalkan wilayah Sulsel.
Lantaran tak ada pekerjaan yang bisa ia lakukan, akhirnya Risman memilih menjadi penjual sayur. Saat itu ia masih bujang dan belum menikah dengan Dg Sannang.
Awalnya, kata Risman, ia agak sulit menjalani profesi barunya ini. Pasalnya, sekian tahun ia bergelut di hutan, membawa senjata untuk berperang.
Tapi, lantaran tuntutan hidup, dan zaman masih sangat sulit, ia harus melakukan profesi barunya itu. “Ternyata pekerjaan inilah yang bisa menghidupi saya dan keluarga. Bahkan sampai saya kakek-kakek seperti sekarang,” aku Risman.
Ternyata menjadi penjual sayur keliling tidak semudah yang dibayangkan orang. Selain harus kuat mengayuh sepeda, juga dibutuhkan kehati-hatian.
Risman menuturkan, sejak ia menjadi penjual sayur keliling, sedikitnya sudah 27 kali ia ditabrak motor. Memang tidak ada yang membuatnya luka berat, tetapi peristiwa demi peristiwa tersebut telah membuatnya trauma.
Tapi yang paling parah saat Risman alias Tata ini ditabrak di Jl AP Pettarani. Saat itu, ia hendak pulang ke Gowa. Tapi, tiba-tiba dari arah belakang, sebuah sepeda motor menabraknya. Tubuh Risman yang telah uzur terpental dari atas sepedanya sejauh beberapa meter di tengah jalan. Bahkan ia nyaris digilas kendaraan, untung Tuhan masih memberinya umur panjang.
“Saya sempat tak sadar. Begitu sadar kaki saya bengkak dan tidak bisa digerakkan lagi. Sementara motor yang tabrak saya melarikan diri,” kesal Risman.
Beruntung ada orang yang menolong Risman. Ia langsung dibawa ke rumah sakit untuk diobati. Sejak saat itu Risman mulai trauma kalau mendengar bunyi motor yang kencang. “Saya juga sempat tidak menjual selama satu bulan karena tidak bisa naik sepeda,” aku Risman sambil terkekeh.BERITAKOTAMAKASSAR

















Belum ada trackback.