HAMPA RELIGI DI NEGERI PAMAN SAM

Kekeringan tampaknya sedang mengancam kehidupan warga di Amerika Serikat (AS). Bukan kekeringan dalam arti fisik, tapi kering dalam arti nilai-nilai spiritual keagamaan.

Fakta ini diungkapkan dalam survei keberagamaan warga AS yang dilakukan American Religious Identification Survey 2008. Survei itu memperlihatkan, persentase pemeluk Kristen di negeri Paman Sam turun.

Sebaliknya, warga yang menyatakan tak memiliki kaitan dengan satu agama pun menunjukkan peningkatan. Sebanyak 15 persen responden yang disurvei menyatakan mereka tak beragama. Angka ini naik dari 14,2 persen pada 2001 dan 8,2 persen pada 1990.

Negara bagian New England di wilayah utara AS, kini melampaui negara bagian di daerah Pasifik sebagai wilayah yang paling tak beragama. Di New England, warga yang menyatakan tak beragama mencapai 34 persen. Secara umum, di seluruh penjuru negara bagian AS, jumlah warga yang mengaku tak beragama memang meningkat.

”Tak ada satu pun agama yang perkembangannya secepat itu (tak beragama) di semua negara bagian,” ujar penggagas survei itu seperti dikutip dari AP, Ahad (8/3) lalu.

Yang mengejutkan, 12 persen warga AS percaya terhadap adanya kekuatan tertinggi, tapi tak percaya kepada satu Tuhan yang menjadi inti ajaran agama monoteis. Namun demikian, hanya 1,6 persen warga AS yang menyatakan dirinya ateis atau agnostik.

Tetapi, jika mengacu agama apa yang mereka peluk, 12 persen ateis (tak percaya Tuhan) atau agnostik (tak yakin), dan 12 persen lainnya adalah deistik (percaya pada kekuatan tertinggi tapi tak percaya satu Tuhan). Dari sisi jumlah, penganut ateis ini meningkat dua kali lipat sejak 2001, dari 900 ribu orang menjadi 1,6 juta orang.

Dan sejak 1990, sekitar 1,2 persen responden mengaku mereka menjadi bagian dari gerakan agama baru, seperti Scientology, Wicca, dan Santeria. Gerakan agama baru ini pada dekade ini lebih cepat ketimbang era 1990.
Sementara itu, di wilayah timur laut AS, orang dewasa yang mengklaim sebagai pengikut Katolik, turun menjadi 36 persen akhir tahun lalu, dari 43 persen pada 1990. Dalam waktu bersamaan, pengikut Katolik tumbuh sepertiga dari seluruh warga dewasa yang menghuni California dan Texas; dan seperempatnya di Florida, yang banyak dipeluk oleh imigran keturunan Amerika Latin.

Secara nasional, dari 306 juta warga AS berdasarkan data GeoHive terakhir, pemeluk Katolik tetap yang terbesar. Sebanyak 57 juta warga Katolik itu mengaku terikat pada gereja, dengan pengikut tambahan 11 juta orang sejak 1990. Meski naik secara jumlah, tapi pengikut Katolik turun dari sisi persentase penduduk AS menjadi 25 persen.

Pengikut Kristen selain Katolik, menunjukkan tren penurunan pula. Hasil survei mencatat, pada 2008, 76 persen warga dewasa negeri Adi Daya itu pemeluk Kristen. Persentase ini turun dibanding 2001 yang 77 persen dan 86 persen pada 1990.

Dalam tujuh tahun terakhir, pemeluk Protestan juga melorot dari 17 persen menjadi 12,9 persen. Data ini berasal dari laporan Trinity College di Hartford, Connectitud, yang menyurvei 54.461 orang dewasa berbahasa Inggris atau Spanyol sejak Februari hingga November 2008. Survei dilakukan dengan tingkat kesalahan plus minus 0,5 persen.

Survei itu juga memperlihatkan peran organisasi keagamaan dalam kehidupan warga telah menurun. Sebanyak 30 persen pasangan yang menikah tidak melakukan upacara keagamaan saat merayakan pesta pernikahan mereka. ”Dan 27 persen responden menyatakan tak ingin merayakannya secara keagamaan. Selain itu, 27 persen warga AS tak menginginkan kematiannya dirayakan secara keagamaan pula,” tulis survei itu.

Survei yang dilakukan terhadap warga keturunan Yahudi, juga menunjukkan penurunan secara jumlah, dari 3,1 juta pada 1990 menjadi 2,8 juta pada 2001, dan 2,7 juta pada 2008 atau 1,2 persen dari populasi warga AS. Kendati begitu, survei menyatakan populasi warga AS keturunan Yahudi stabil dalam dua dekade terakhir.

Yang menggembirakan, populasi Muslim di AS memperlihatkan kecenderungan terus menanjak. Bila pada 1990 hanya 0,3 persen, 0,5 persen pada 2001, pada 2008 menjadi 0,6 persen.

Peluang dakwah
Menanggapi hasil survei itu, imam Masjid New York, Ustaz Syamsi Ali, mengaku tak terkejut. Sudah sejak lama warga AS menunjukkan ketidaktertarikan terhadap agama. ”Termasuk agama yang dulu dinyatakan secara tidak resmi sebagai agama bangsa AS, yakni Kristen dan Yahudi,” katanya kepada Republika.

Akan tetapi, kata Ustaz Syamsi yang terlahir di Kajang, Sulawesi Selatan, 5 Oktober 1967, itu bukan berarti mayoritas warga AS tidak beragama dalam artian spiritual. Justru banyak di antara mereka yang sangat peduli dengan kegiatan-kegiatan spiritual.

Ini terlihat dari–sebelum Islam menjadi sangat populer di Amerika–agama Buddha yang berkembang pesat, khususnya aliran Dalai Lama. Dengan kehadiran Islam dan khususnya semakin populernya agama ini sejak 11 September 2001, ketidakacuhan warga AS itu menjadi berubah.

Menurut Ustaz Syamsi yang pernah didaulat memimpin dalam doa bersama pascaserangan 9/11 di masa pemerintahan Presiden George W Bush–peringatan itu menghadirkan tokoh dari berbagai agama–serangan teroris ke menara kembar WTC itu sangat besar perannya dalam mengubah persepsi warga AS terhadap Islam.

Islam dikenalkan menjadi populer oleh peranan media, yang pada awalnya kebanyakan secara negatif, tapi kemudian berbalik. Karena itu, Islam malah kian dipelajari dan didalami banyak warga. ”Ini pada akhirnya bagaikan magnet yang sangat dahsyat,” tuturnya.

Meningkatnya jumlah warga AS yang tak beragama, menurutnya, malah harus dimanfaatkan sebagai peluang. ”Saya selalu melihat bahwa Amerika itu ladang dakwah yang subur. Ada kekosongan spiritual yang terjadi dan ini perlu segera diisi,” katanya.

Dia yakin, hal ini dilakukan bukan hanya demi perkembangan Islam, tapi lebih dari itu. Justru, ujarnya, akan menyelamatkan warga Amerika dari kevakuman spiritual yang lebih dalam yang dapat berakibat fatal. ”Saya sangat yakin bahwa Islam adalah agama yang sangat sesuai dengan warga Amerika,” tegasnya.

Ada dua alasan mengapa demikian. Pertama, jelasnya, warga AS yang sejatinya sangat spiritual itu, sangat memerlukan Islam yang sangat praktis dalam memenuhi hajat spiritualitas warga AS.
Alasan kedua, paparnya, warga Amerika itu sangat rasional. ”Dan Islam adalah agama yang tidak menjadikan rasionalitas terinjak-injak demi memenuhi hajat spiritualitas,” pungkasnya.REPUBLIKA

    • anne_chantique
    • Juni 25th, 2009

    mungkingengsi, untuk menunjukkan betapa orang2 yang ngaku ga beragama itu harus tunduk sama pencipta…maka jadilah sebuah kmunafikan, salah satu godaan syetan.

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 93 pengikut lainnya.